Kabar Sejuk dari Lumbung Padi: Produksi Beras Triwulan I-2026 Diprediksi Melejit 15,79 Persen

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 2 Februari 2026 – 22:14 WIB

BPS memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 10,16 juta ton pada awal 2026. (Foto: AFP)

BPS memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 10,16 juta ton pada awal 2026. (Foto: AFP)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Angin segar berembus dari sektor pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi padi nasional pada triwulan pertama tahun 2026 bakal mengalami lonjakan signifikan. Sebuah sinyal positif bagi ketahanan pangan di tengah dinamika ekonomi awal tahun.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa pada periode Januari hingga Maret 2026, produksi padi nasional diperkirakan mampu menembus angka 17,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Jika dikonversi, angka ini setara dengan 10,16 juta ton beras.

“Potensi produksi beras pada awal tahun ini diperkirakan naik 1,39 juta ton atau sekitar 15,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Luas Panen Jadi Kunci Utama 

Bukan tanpa alasan angka produksi ini meroket. BPS mencatat adanya ekspansi luas panen yang cukup impresif. Luas panen padi pada periode Januari-Maret 2026 diprediksi mencapai 3,28 juta hektare, alias tumbuh 15,32 persen dibandingkan tahun lalu. 

Perluasan lahan yang siap panen ini menjadi mesin utama pendorong kenaikan produksi di awal tahun.

Tren positif ini sebenarnya sudah terlihat sejak rapor merah tahun 2025 ditinggalkan. Sepanjang tahun lalu, produksi beras nasional sukses menyentuh 34,69 juta ton, melonjak 13,29 persen dibandingkan tahun 2024.

Bahkan, produktivitas lahan per hektare pun menunjukkan tren mendaki, meski tipis, ke angka 53,18 kuintal per hektare.

Nasib Petani dan Harga Beras di Pasar 

Namun, di balik melimpahnya stok, ada catatan kritis yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026 justru terkoreksi 1,4 persen ke angka 123,6. Penurunan ini dipicu oleh indeks harga yang diterima petani yang merosot lebih dalam dibandingkan beban biaya yang harus mereka bayar.

Ironisnya, saat harga di tingkat petani tertekan, harga beras di seluruh rantai pasok justru kompak merangkak naik. BPS mencatat harga beras di tingkat penggilingan naik 0,75 persen, diikuti tingkat grosir yang naik 0,40 persen, dan eceran yang merangkak 0,16 persen secara bulanan.

Jagung Ikut Tumbuh 

Tak hanya padi, sektor palawija juga menunjukkan taringnya. Produksi jagung nasional sepanjang 2025 tercatat mencapai 16,16 juta ton, tumbuh 6,74 persen. Meskipun pada Desember 2025 sempat terjadi penurunan produksi bulanan, namun secara kumulatif tahunan, posisi jagung tetap dalam tren penguatan.

Tantangan ke depan kini beralih pada bagaimana pemerintah mampu menjaga keseimbangan harga agar kenaikan produksi ini tak hanya memperkuat stok nasional, tetapi juga memberikan kesejahteraan yang nyata bagi para petani di sawah.