Jurus AWD Kementan Jaga Produktivitas Padi saat Kemarau

Reza Medium.jpeg

Minggu, 29 Maret 2026 – 22:15 WIB

Arsip - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjajal alat mesin pertanian combine harvester di lahan pertanian Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Serpong, Tengerang, Banten, Senin (3/11/2025). (Foto: Antara)

Arsip – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjajal alat mesin pertanian combine harvester di lahan pertanian Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Serpong, Tengerang, Banten, Senin (3/11/2025). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kementerian Pertanian (Kementan) menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang untuk menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen. Langkah ini diambil sebagai strategi adaptasi menghadapi fenomena El Nino ekstrem yang berpotensi memicu kekeringan panjang.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa teknologi ini mampu menjaga produktivitas padi meskipun penggunaan air dikurangi. Efisiensi air menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan produksi di tengah cuaca yang tidak menentu.

“Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi. Upaya efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu,” kata Amran dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (29/3/2026).

Amran menekankan bahwa ketersediaan air yang terencana sangat menentukan dalam menekan risiko gagal panen. “Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujarnya.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Fadjry Djufry menjelaskan bahwa AWD merupakan inovasi untuk menjawab tantangan kelangkaan air. Teknologi yang dikembangkan International Rice Research Institute sejak 2009 ini telah diadaptasi di Indonesia oleh Kementan sejak 2013.

“Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17-20 persen,” tutur Fadjry.

Menurut Fadjry, metode ini juga memperbaiki kondisi tanah dan menurunkan emisi gas rumah kaca di lahan sawah. “Sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” tambahnya.

Secara teknis, analis BRMP Ali Pramono menjelaskan penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kelembapan tanah. Sawah tidak dibiarkan tergenang terus-menerus; air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali.

Pantauan kedalaman air dilakukan menggunakan pipa paralon yang dilubangi dan dibenamkan ke tanah sebagai alat ukur sederhana. “Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali,” kata Ali.

Pengairan baru dilakukan kembali ketika muka air di dalam pipa turun hingga 10–15 cm di bawah permukaan tanah. “Kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembapan tanah,” jelas Ali.

Siklus ini dilakukan berulang dengan tetap menjaga ketersediaan air pada fase kritis seperti pemupukan dan saat tanaman bunting. Ali menyebut AWD memperkuat ketahanan sistem produksi padi.

“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tuturnya.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang