Pemimpin tertinggi Hizbullah, Naim Qassem. (Foto: Al Jazeera)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah rapuhnya stabilitas di kawasan, pemimpin tertinggi Hizbullah, Naim Qassem, kembali mengeluarkan ‘sabda’ perlawanan. Dalam pidato peringatan yang disiarkan televisi Lebanon al-Manar, Qassem menegaskan bahwa Hizbullah akan terus melanjutkan konfrontasi guna mencegah Israel mengonsolidasikan kekuatan atau mengubah peta perbatasan di wilayah tersebut.
Pernyataan ini seolah menjadi pesan terbuka bahwa kehadiran Hizbullah bukan sekadar organisasi paramiliter, melainkan pilar pertahanan yang diklaim sebagai penentu masa depan kedaulatan Lebanon.
Melawan ‘Entitas Kanker’ dan Dominasi Barat
Dalam orasinya, Qassem tak ragu melabeli Israel sebagai ‘entitas kanker’ yang harus terus dihadapi. Ia juga melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat dan blok Barat. Menurutnya, negara-negara tersebut hanya berperan sebagai alat untuk melegitimasi pendudukan dan merampas hak-hak rakyat Palestina.
“Hizbullah telah bertahan menghadapi Israel selama 42 tahun. Kami telah membebaskan wilayah dan mencegah dominasi asing,” ujar Qassem, seperti dikutip dari Xinhua, Kamis (12/2/2026).
Ia menekankan bahwa eksistensi gerakan perlawanan ini merupakan kebutuhan vital yang berdampingan dengan negara guna memastikan Lebanon tidak jatuh ke dalam dominasi lawan.
Gencatan Senjata yang Hanya di Atas Kertas?
Ironisnya, retorika keras ini muncul di saat sebuah perjanjian gencatan senjata sebenarnya sudah berlaku sejak 27 November 2024. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Gencatan senjata tersebut tampak compang-camping akibat aksi saling serang yang masih terus terjadi.
Israel berdalih serangan-serangan mereka ke wilayah Lebanon belakangan ini bertujuan untuk melenyapkan ancaman Hizbullah yang masih tersisa. Sebaliknya, bagi Hizbullah, tindakan Israel tersebut adalah bukti bahwa perdamaian hanyalah ilusi selama militer Tel Aviv masih bergerak di zona perbatasan.
Pertempuran lintas batas yang tersulut sejak konflik Gaza pada Oktober 2023 lalu tampaknya belum menemui titik akhir yang hakiki. Pernyataan Qassem mempertegas bahwa Hizbullah tidak akan melunak sedikit pun, membuat ketegangan di Timur Tengah tetap berada pada level yang sangat berbahaya.














