Industri kebutuhan pokok masyarakat kembali dihantam badai besar. Harga popok nasional diprediksi bakal naik tajam hingga 30 persen dalam waktu dekat. Lonjakan ini dipicu oleh melambungnya biaya bahan baku hingga 100 persen sebagai dampak ekor dari eskalasi perang antara Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) memberikan peringatan keras bahwa industri popok nasional kini berada di titik kritis. Tak hanya soal harga, ancaman penghentian produksi hingga badai pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan kini nyata di depan mata.
Direktur Komite Diapers APKI, Oto Gunasis, mewanti-wanti pemerintah bahwa stok popok di pasar bisa terganggu secara serius jika dalam satu hingga dua bulan ke depan tidak ada kepastian pasokan bahan baku.
“Perubahan harga bahan baku yang sangat cepat membuat perhitungan biaya produksi menjadi tidak stabil. Industri perlu melakukan penyesuaian secara realistis dan terukur agar tidak mengalami tekanan yang lebih dalam,” ujar Oto Gunasis, dikutip dari Antara, Minggu (26/4/2026).
Efek Domino Geopolitik Timur Tengah
Krisis ini berakar dari panasnya situasi di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak mentah dunia. Kenaikan emas hitam tersebut menyeret naik harga komponen petrokimia seperti nafta dan polypropylene, dua turunan minyak yang menjadi bahan utama pembuat popok.
Melejitnya harga bahan baku ini diperparah dengan kondisi pasokan yang kian langka di pasar global. Oto menyebut, situasi terjepit ini memaksa produsen untuk mengerek harga jual di level konsumen sebesar 20 persen hingga 30 persen guna menambal biaya produksi.
Namun, APKI menilai kenaikan harga jual tersebut belum menjadi jaminan keselamatan bagi industri jika ketersediaan bahan baku tidak segera pulih. “Tekanan biaya berpotensi mendorong penyesuaian harga jual di pasar, yang pada akhirnya dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat,” imbuh Oto.
Desak Langkah Nyata Pemerintah
Menghadapi situasi darurat ini, APKI mendesak Pemerintah RI untuk segera memberikan respons cepat. Ada dua poin utama yang diminta: kemudahan proses perizinan dan kelancaran arus impor bahan baku untuk menghindari sumbatan distribusi.
Produsen menekankan bahwa koordinasi antarkementerian saat ini sangat krusial. Jangan sampai di tengah krisis, muncul kebijakan baru yang justru menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha.
Tanpa solusi nyata dalam jangka pendek, APKI mengkhawatirkan skenario terburuk—penghentian operasional pabrik—akan menjadi kenyataan. Jika pabrik berhenti beroperasi, gelombang PHK di sektor industri popok tidak akan bisa terelakkan lagi.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah. Masyarakat tentu berharap ketersediaan produk sanitasi dasar ini tetap terjaga dengan harga yang masih terjangkau, di tengah himpitan ekonomi akibat ketidakpastian global yang kian liar.













