Nilai tukar rupiah melemah tipis ke level Rp17.210 per dolar AS pada perdagangan Senin (27/4/2026). (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada pembukaan perdagangan pekan ini. Ketidakpastian global yang bersumber dari kebuntuan meja diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi beban baru bagi mata uang Garuda di tengah upaya pemulihan stabilitas moneter.
Berdasarkan data perdagangan Senin (27/4/2026) pagi, rupiah parkir di level Rp17.210 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan koreksi tipis sebesar 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan dengan level penutupan sebelumnya.
Kontras dengan Arus Regional
Pelemahan rupiah tergolong unik karena terjadi saat mayoritas mata uang di kawasan Asia justru menunjukkan taringnya terhadap The Greenback. Ringgit Malaysia memimpin penguatan dengan apresiasi 0,31 persen, disusul peso Filipina 0,14 persen, dan won Korea Selatan 0,13 persen.
Mata uang utama negara maju juga terpantau perkasa. Dolar Australia menguat signifikan 0,23 persen, sementara euro dan poundsterling Inggris masing-masing terapresiasi tipis di kisaran 0,03 hingga 0,04 persen.
Imbas Gagalnya Diplomasi
Pelemahan rupiah ini tidak lepas dari sentimen geopolitik yang memanaskan harga komoditas global. Gagalnya putaran kedua negosiasi perdamaian antara AS dan Iran menjadi pemicu utama.
Sebagai negara importir minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi neraca perdagangan dan stabilitas kurs rupiah. Tekanan pada sisi suplai energi ini secara langsung memberikan beban psikologis bagi pelaku pasar domestik.
Menanti Tangan Dingin BI
Meski berada di zona merah, ruang pelemahan rupiah diprediksi bakal terbatas. Pelaku pasar meyakini Bank Indonesia (BI) tetap berada di pasar untuk menjaga volatilitas agar tidak melambung liar. Intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, maupun pasar obligasi diharapkan mampu menjaga benteng pertahanan rupiah.
Kini, fokus pelaku pasar tidak hanya tertuju pada rilis data ekonomi domestik, namun juga memantau seberapa jauh eskalasi konflik di Timur Tengah akan mempengaruhi harga energi global.
Di tengah ketidakpastian ini, ketahanan cadangan devisa dan bauran kebijakan moneter BI menjadi kunci krusial untuk menahan laju depresiasi lebih lanjut.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













