Garuda Indonesia mencatat pendapatan Rp12,58 triliun pada kuartal I-2026 berkat ekspansi armada dan efisiensi. (Foto: Inilah.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kabar positif berembus dari maskapai pembawa bendera bangsa. Di tengah proses transformasi bisnis yang masih berjalan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ternyata mampu membuktikan performa yang meyakinkan di awal tahun 2026.
Berdasarkan data keuangan per 31 Maret 2026, Garuda berhasil meraup pendapatan solid sebesar Rp12,58 triliun (US$762,35 juta). Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,36 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Penopang Utama Pendapatan
Rapor biru pada top line (pendapatan) ini didorong oleh sektor penerbangan berjadwal yang masih menjadi tulang punggung utama perusahaan dengan kontribusi sebesar Rp10,69 triliun.
Di sisi lain, sektor penerbangan tidak berjadwal atau charter turut menyumbang pundi-pundi sebesar Rp412 miliar. Sementara itu, segmen pendapatan lainnya, termasuk bisnis kargo logistik yang terus dioptimalkan, berhasil mencetak angka Rp1,47 triliun.
Kenaikan pendapatan yang solid ini tidak terjadi secara kebetulan. Sedikitnya ada tiga motor penggerak utama: lonjakan volume penumpang, membaiknya yield (perolehan harga tiket rata-rata), serta penambahan amunisi armada. Kapasitas pesawat yang beroperasi kini melonjak tajam menjadi 99 unit, dibandingkan sebelumnya yang hanya berjumlah 84 unit.
Efisiensi Ketat Pangkas Kerugian
Selain jago kandang dalam menggenjot pendapatan, manajemen Garuda terbukti makin piawai mengencangkan ikat pinggang. Strategi efisiensi operasional berjalan efektif, tercermin dari total pengeluaran beban yang berhasil ditekan dari Rp11,85 triliun menjadi Rp11,77 triliun.
Lantas, apakah Garuda sudah mencetak laba bersih? Belum. Namun, tren perbaikan fundamentalnya sangat jelas.
Efisiensi biaya di tengah naiknya pendapatan sukses memangkas kerugian maskapai hingga hampir separuhnya. Angka kerugian yang pada periode sebelumnya bengkak di level Rp1,25 triliun, kini menyusut tajam dan tersisa Rp686 miliar.
Meski belum sepenuhnya menginjak zona profit, arah kompas Garuda dinilai sudah sangat tepat. Dengan tren pendapatan yang terus mendaki, beban operasional yang kian ramping, serta kapasitas armada yang bertambah, bukan tidak mungkin maskapai pelat merah ini akan kembali mendarat di landasan profitabilitas dalam beberapa kuartal ke depan.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













