Harap-harap Cemas Keputusan The Fed, Rupiah ‘Tenggelam’ ke Rp17.762/US$

Clara Medium.jpeg

Rabu, 17 Juni 2026 – 21:09 WIB

Nilai tukar rupiah pada Senin (15/6/2026) pagi bergerak menguat 82 poin atau 0,46 persen menjadi Rp17.778 per dolar AS. (Foto: SG Finance)

Nilai tukar rupiah pada Senin (15/6/2026) pagi bergerak menguat 82 poin atau 0,46 persen menjadi Rp17.778 per dolar AS. (Foto: SG Finance)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS (US$) pada perdagangan Rabu (17/6/2026), ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen, menjadi Rp17.762 per dolar AS, ketimbang penutupan kemarin yang bertengger di level Rp17.725 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan mata uang Garuda ini, dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah muncul optimisme terkait kesepakatan yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah.

“Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut,” ujar Ibrahim di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi karena proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selain itu, sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan tersebut menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata.

Pelaku pasar juga menanti hasil rapat kebijakan The Fed. Di mana, bank sentral Amerika Serikat itu, diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, namun investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun.

“Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut ‘plot titik’ untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini,” tutur Ibrahim.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI dalam beberapa kesempatan terakhir menaikkan suku bunganya atau BI rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.

Ibrahim menilai langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.

Selain itu, Indonesia dinilai relatif lebih siap menghadapi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah karena telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lain.

“Langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” tambahnya.

Adapun untuk perdagangan Kamis besok (18/6), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.760-Rp17.800 per dolar AS.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang