Gengster Kuasai Amazon: Hutan Tropis Brasil Jadi Ladang Pembantaian

Ikhsan Medium.jpeg

Minggu, 23 November 2025 – 00:01 WIB

Seorang anggota muda kelompok kriminal Brasil, First Capital Command, memamerkan pistolnya di pinggiran kota di Amazon. (Foto: The Guardian/Joao Laet)

Seorang anggota muda kelompok kriminal Brasil, First Capital Command, memamerkan pistolnya di pinggiran kota di Amazon. (Foto: The Guardian/Joao Laet)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Hutan hujan Amazon, yang selama ini diagungkan sebagai paru-paru dunia dan benteng terakhir melawan perubahan iklim, kini tak lagi sunyi. Di balik rimbunnya kanopi hijau yang membentang luas, suara kicau burung dan gemericik air sungai kini tersamarkan oleh deru mesin perahu cepat penyelundup dan letusan senjata api.

Amazon sedang sakit parah. Bukan hanya karena deforestasi, melainkan karena infeksi mematikan bernama kejahatan terorganisir.

Sebuah laporan terbaru dari lembaga nirlaba berpengaruh menyingkap fakta yang membuat bulu kuduk merinding: gengster kriminal telah mencengkeram hampir setengah dari seluruh kota di wilayah Amazon, Brasil. Mereka tidak hanya bersembunyi di hutan; mereka adalah penguasa bayangan di 344 dari 772 kota dan kabupaten di sana.

Ini adalah sebuah ‘kudeta’ sunyi yang mencakup 45 persen wilayah, sebuah lonjakan pengaruh sebesar 32 persen dibandingkan dua tahun lalu.

David Marques, salah satu penyusun laporan tersebut, melukiskan situasi ini dengan suram. “Kelompok kriminal ini tidak sekadar berdagang narkoba. Mereka melakukan ekspansi agresif, memeras penduduk, dan memperkosa lingkungan,” ujarnya.

Sungai Darah dan Landasan Udara Ilegal

Dua raksasa kriminal menjadi aktor utama dalam drama berdarah ini: Red Command (Komando Merah) dari Rio de Janeiro dan First Capital Command dari Sao Paulo. Keduanya membelah Amazon sesuai keahlian masing-masing.

Komando Merah, yang kekuatannya meluas dua kali lipat sejak 2023, menguasai urat nadi Amazon: sungai-sungai besarnya. Bekerja sama dengan kartel dari Peru dan Kolombia, mereka mengubah jalur air yang vital itu menjadi jalan tol narkoba menuju pelabuhan-pelabuhan strategis seperti Manaus, Santarem, hingga Belem —kota yang ironisnya akan menjadi tuan rumah konferensi iklim PBB, COP30.

Di sisi lain, First Capital Command bermain di udara. Mereka membangun landasan udara ilegal di pelosok terpencil, menyokong kegiatan penambangan ilegal yang merusak tanah dan meracuni air.

Dampaknya adalah banjir darah. Pada tahun 2024 saja, tercatat 8.047 pembunuhan di wilayah tersebut. Rata-ratanya mencapai 27,3 kasus per 100 ribu orang —jauh melampaui rata-rata nasional Brasil. Bahkan, polisi merespons dengan tangan besi; sebuah operasi penumpasan pada akhir Oktober lalu berakhir dengan tewasnya 121 orang.

Hukum yang Tertatih di Tengah Rimba

Situasi yang kian runyam ini memaksa Brasilia bertindak. Majelis rendah parlemen Brasil baru saja mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) pada Selasa (18/11/2025) yang memperberat hukuman bagi anggota geng. Hukuman untuk pembunuhan berencana, misalnya, akan dilipatgandakan hingga 40 tahun penjara. Pemerintah juga diberi wewenang untuk menyita aset kartel sebelum vonis dijatuhkan, sebuah langkah untuk memotong urat nadi finansial mereka.

Namun, Renato Sérgio de Lima, Direktur Keamanan Publik Brasil, mengingatkan bahwa pendekatan keras saja tidak cukup. Memberantas kejahatan di Amazon bukan hanya soal peluru balas peluru. Ini soal mengubah model pembangunan yang selama ini abai, yang membiarkan eksploitasi sumber daya alam menjadi celah bagi masuknya mafia.

Saat senja turun di Amazon, ancaman itu nyata. Bagi warga lokal, hutan bukan lagi tempat berlindung, melainkan arena pertarungan geng Venezuela, Tren de Aragua, melawan kartel lokal, memperebutkan setiap jengkal tanah di wilayah yang kian kehilangan kesuciannya.

Topik
Komentar