Febby Rastanty Jatuh Cinta pada Lari, Sebut Jadi ‘Escape’ di Tengah Jadwal Syuting

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Minggu, 15 Februari 2026 – 12:54 WIB

Aktris Febby Rastanty di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026). (Foto: inilah.com/Harris Muda)

Aktris Febby Rastanty di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026). (Foto: inilah.com/Harris Muda)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Aktris Febby Rastanty mengungkap alasan dirinya konsisten menekuni olahraga lari dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah padatnya jadwal syuting, lari menjadi pilihan yang dinilai paling fleksibel sekaligus memberi ruang pribadi untuk melepas penat.

Febby menegaskan ia tidak meninggalkan dunia akting. Lari justru menjadi penyeimbang aktivitasnya di industri hiburan yang memiliki jam kerja tidak menentu.

“Karena dari semua cabang olahraga yang ada, preferensi sih. Itu yang aku nyaman untuk dijadiin lifestyle. Karena kan aku kegiatannya, pekerjaannya tuh waktunya agak kurang tentu,” kata Febby di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026).

Menurut dia, fleksibilitas menjadi faktor utama. Dalam kondisi syuting stripping yang bisa berlangsung setiap hari, tidak semua olahraga dapat dijalani tanpa komitmen waktu dengan orang lain.

“Jadi enggak begitu fleksibel. Maksudnya kalau lagi shooting stripping kan shooting-nya setiap hari. Nah satu-satunya olahraga yang bisa egois, alias sendiri, suka-suka aku ya lari,” ujarnya.

febby-rastanty-1762251680370_34.jpeg

Perempuan berusia 30 tahun itu menyebut lari bisa dilakukan kapan saja, termasuk di malam hari dengan bantuan treadmill.

“Mau aku lari malam ibaratnya ya, maksudnya walaupun sebenarnya tidak baik, tapi ibaratnya kalau mau lari sore, pagi, siang, malam,” katanya.

“Malam bisa di treadmill, itu aku bisa lakukan. Sementara kalau olahraga-olahraga lain, seperti tenis, padel, dan lain-lain itu kan harus janjian,” tambahnya.

Istri Drajad Djumantara itu mengaku tubuhnya terasa tidak nyaman jika terlalu lama tidak berolahraga. Kebiasaan tersebut yang membuatnya konsisten.

“Kalau enggak olahraga tuh rasanya badan enggak nyaman. Kalau seminggu enggak olahraga, sakit-sakit,” katanya.

Ia bahkan menyebut lari sebagai bentuk candu positif sekaligus sarana penyembuhan diri.

“Jadi nagih. Makanya akhirnya aku berlabuh di lari. Terus aku ngerasa lari tuh escape aku, healing aku. Aku lebih suka lari,” ucapnya.

Bagi Febby, pengalaman berlari lebih bermakna ketika dilakukan sendiri sambil mendengarkan musik. Ia menyebut aktivitas itu sebagai ruang refleksi personal.

Sejauh ini, Febby telah mengikuti sejumlah ajang maraton internasional, termasuk rangkaian World Marathon Majors. Ia tercatat pernah berlari di Tokyo, Chicago, London, Berlin, hingga Boston dan membawa pulang medali dari partisipasinya.

Pilihan Febby menunjukkan bahwa lari tidak sekadar tren gaya hidup, melainkan kebutuhan personal yang lahir dari tuntutan ritme kerja dan kesadaran menjaga kebugaran.