Kebakaran di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, terlihat dari kejauhan setelah serangkaian serangan AS di Caracas pada Sabtu, 3 Januari 2026. (Foto: AFP)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Bagi Beverly Moreno, malam bukan lagi waktu untuk beristirahat. Sejak rudal Amerika Serikat (AS) menghantam instalasi militer Fort Tiuna pada 3 Januari lalu, kegelapan malam justru menjadi horor yang mencekam. Warga Caracas ini adalah satu dari ribuan jiwa yang kini harus hidup berdampingan dengan trauma psikososial yang akut.
“Setiap kali ada suara, kami tidak bisa tidur. Saya baru merasakan kantuk sekitar pukul 06.00 pagi, saat cahaya matahari mulai muncul,” ujar Moreno dengan nada getir.
Tinggal di kompleks perumahan Carlos Raul Villanueva—hanya beberapa meter dari titik ledakan—Moreno menyaksikan bagaimana jendela apartemennya hancur berantakan akibat gelombang kejut bom.
Namun, kaca yang pecah bisa diganti; tidak demikian dengan kesehatan mental keluarganya. Moreno bercerita bagaimana jantungnya kerap berdebar kencang, tubuh bergetar, dan tangan menjadi dingin setiap kali malam menjelang. Anak-anak perempuannya kini tumbuh dalam dekapan kecemasan dan mimpi buruk yang berulang.
Trauma Massal di Balik Puing-Puing
Dampak serangan militer ini ternyata telah menyebar bak wabah di komunitas tersebut. Tercatat sedikitnya 211 keluarga di lingkungan Moreno telah menerima dukungan psikologis. Gejalanya serupa: serangan panik dan ketakutan berlebih terhadap suara atau cahaya asing.
Psikolog sekaligus profesor universitas, Jose Garces, menyebut fenomena ini sebagai trauma psikososial. Ini bukan sekadar rasa takut biasa, melainkan tekanan mental mendalam yang sering kali tak terlukiskan dengan kata-kata.
“Ada depresi, stres, dan rasa sakit yang muncul secara bersamaan. Gejalanya meliputi insomnia, kecemasan tinggi, hingga detak jantung cepat,” jelas Garces.
Yang lebih memprihatinkan, anak-anak yang sebelumnya tumbuh normal kini mengalami kemunduran perkembangan. Tangis yang pecah tanpa henti menjadi melodi harian di kompleks perumahan yang dibangun lewat program pemerintah, Great Housing Mission Venezuela, tersebut.
Seni di Tengah Prahara
Di tengah reruntuhan mental itu, Jose Alejandro Delgado, seorang musisi lokal dari kawasan Simon Bolivar, mencoba merajut kembali harapan lewat nada. Baginya, rudal yang jatuh kurang dari satu kilometer dari rumahnya adalah sebuah tragedi tanpa alasan yang memaksa satu bangsa merasakan kesakitan luar biasa.
“Di mana cintamu, ketika mereka mengebom sebuah bangsa tanpa alasan?” tulis Delgado dalam penggalan lirik lagu terbarunya.
Bagi para seniman di Caracas, berkarya di tengah luka adalah upaya untuk menciptakan kohesi dan keindahan dari sebuah kesulitan yang teramat sangat.
Sejarah Kelam yang Terulang
Otoritas Venezuela melaporkan bahwa serangan pada awal Januari tersebut menelan korban lebih dari 100 jiwa, mencakup warga sipil dan personel militer. Secara historis, serangan asing dengan skala sebesar ini belum pernah dialami Venezuela selama lebih dari satu abad.
Terakhir kali Venezuela menghadapi agresi serupa terjadi pada medio 1902-1903, saat kekuatan Eropa melakukan blokade pelabuhan.
Kini, satu abad kemudian, rakyat Venezuela kembali dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa kedaulatan mereka harus dibayar mahal dengan air mata dan trauma yang mungkin baru akan sembuh dalam hitungan generasi.











