Youtube Shorts. (Foto: Socialpilot)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Merespons kekhawatiran global terkait durasi layar (screen time) dan kesehatan mental remaja, YouTube secara resmi meluncurkan fitur baru di Indonesia yang memungkinkan pembatasan durasi harian untuk menonton konten video pendek atau Shorts. Langkah ini diambil sebagai upaya “mengerem” kebiasaan menonton tanpa henti (doomscrolling) di kalangan pengguna muda.
Global Head of Healthcare YouTube & Google Health, Garth Graham, dalam peluncurannya di Jakarta Selatan, Kamis (21/11), menegaskan bahwa fitur ini memberikan kendali penuh kembali ke tangan pengguna.
“Hari ini, dengan bangga saya sampaikan bahwa kami meluncurkan fitur baru yang memberi pengguna kendali dan menetapkan batas waktu menonton Shorts,” ujar Graham.
Otomatis Setop Saat Waktu Habis
Fitur ini dirancang praktis namun tegas. Pengguna dapat mengaksesnya melalui menu Setelan (Settings) > Umum, lalu mengaktifkan opsi “Batas feed Shorts”.
YouTube menyediakan variasi durasi mulai dari 15 menit, 30 menit, 45 menit, 1 jam, hingga 2 jam. Begitu batas waktu tercapai, aplikasi akan memberikan notifikasi dan secara otomatis menghentikan feed Shorts, mencegah pengguna untuk terus menggulir layar.
Fitur ini melengkapi perlindungan yang sudah ada sebelumnya, yakni pengingat “Take a Break” dan “Bedtime” yang kini sudah aktif secara otomatis (default) bagi pengguna di bawah usia 18 tahun.
Orang Tua Bisa Pasang “Rem Pakem”
YouTube juga tengah menyiapkan integrasi lebih lanjut untuk akun yang diawasi orang tua (supervised accounts). Nantinya, orang tua dapat menetapkan batas waktu Shorts secara proaktif yang tidak bisa diabaikan atau diubah oleh anak. Ini menjadi solusi bagi orang tua yang kesulitan mengontrol konsumsi konten digital buah hatinya.
Selain pembatasan waktu, YouTube melakukan intervensi pada sistem algoritmanya. Platform ini menambahkan lapisan perlindungan ekstra untuk membatasi rekomendasi konten yang berpotensi bermasalah jika ditonton berulang kali oleh remaja, meskipun konten tersebut aman jika dilihat sekilas.
YouTube telah mengidentifikasi enam kategori konten sensitif yang frekuensi kemunculannya akan ditekan secara drastis bagi akun remaja. Kategori tersebut meliputi:
- Perbandingan fisik (body image).
- Agresi sosial.
- Saran keuangan yang buruk dan tidak realistis.
Langkah ini diambil setelah berkonsultasi dengan Youth and Families Advisory Committee untuk memastikan remaja tidak terjebak dalam lubang algoritma yang dapat merusak persepsi diri dan mental mereka.














