Candi Borobudur yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merupakan salah satu situs warisan dunia Buddha terbesar dan termegah di dunia yang menjadi ikon pariwisata Indonesia dan Asia Tenggara. (Foto: Visit Jawa Tengah/Taman Wisata Borobudur)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Sebuah fakta mengejutkan terungkap dari laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS). Jika selama ini Bali atau Yogyakarta dianggap sebagai ‘raja’ pendapatan pariwisata di Tanah Air, data berbicara lain. Provinsi Jawa Tengah (Jateng) justru tampil sebagai juara bertahan dengan pendapatan tertinggi dari objek daya tarik wisata komersial.
Angka tidak berbohong. Sepanjang tahun 2024, Jawa Tengah mencatatkan total pendapatan sebesar Rp2,77 triliun. Angka ini sukses menyalip Bali —ikon pariwisata nasional— yang harus puas berada di posisi kedua dengan raihan Rp2,56 triliun.
Dominasi Pulau Jawa
Keunggulan Jawa Tengah ini bukan kebetulan semata. Tingginya jumlah kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi populer, mulai dari wisata alam hingga situs budaya bersejarah, menjadi motor penggerak utamanya.
Setelah Jateng dan Bali, posisi berikutnya secara berturut-turut ditempati oleh DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Banten. Data ini menegaskan dominasi mutlak Pulau Jawa yang didukung infrastruktur matang seperti jaringan tol, hotel, dan restoran yang memudahkan mobilitas pelancong.
Sementara itu, provinsi di luar Jawa yang mampu menembus daftar elite ini hanyalah Sumatera Utara, Riau, dan Sulawesi Selatan.
Kenapa Jateng Bisa Menang?
Secara analitis, kunci kemenangan Jawa Tengah terletak pada kuantitas dan variasi objek wisata. Peta daya tarik wisata komersial BPS menunjukkan Jateng memiliki jumlah usaha terbanyak.
Untuk kategori wisata alam komersial, Jateng memimpin dengan 250 usaha, mengungguli Jawa Barat (224 usaha) dan Jawa Timur (210 usaha). Begitu pula di sektor wisata budaya, Jateng kembali berada di puncak dengan 51 usaha, jauh di atas Bali yang tercatat memiliki 24 usaha dalam kategori spesifik ini.
Jika dihitung dari selisih pendapatan dan pengeluaran, Jawa Tengah juga mencatatkan surplus terbesar secara nasional, yakni mencapai Rp2,23 triliun. Disusul DKI Jakarta (Rp1,47 triliun) dan Bali (Rp1,41 triliun).
Ketimpangan Masih Menganga
Meski sektor pariwisata nasional menunjukkan tren pemulihan yang kuat pasca-pandemi —dengan total pendapatan objek wisata komersial nasional mencapai Rp11,63 triliun pada 2024— ada catatan kritis yang perlu digarisbawahi: ketimpangan wilayah.
Konsentrasi uang dan pengembangan wisata masih sangat terpusat di Jawa dan Bali. Dari total pendapatan nasional tersebut, 85,5 persen disumbang oleh penjualan tiket masuk, sementara sisanya berasal dari penyewaan tenant dan penjualan suvenir yang melibatkan UMKM lokal.
Fakta ini menjadi sinyal bagi pemerintah pusat dan daerah untuk tidak hanya berpuas diri pada angka agregat nasional, melainkan mulai serius memeratakan ‘kue’ pariwisata ke wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal.














