Raksasa dirgantara Korea Selatan (Korsel), Korea Aerospace Industries (KAI), secara terbuka menyampaikan komitmennya untuk menggandeng PT Dirgantara Indonesia (DI) ke panggung internasional. PT DI dibidik untuk menjadi bagian penting dari rantai pasok (supply chain) global jet tempur canggih KF-21 Boramae, yang merupakan proyek jet tempur supersonik hasil pengembangan bersama antara Seoul dan Jakarta.
Pernyataan strategis tersebut dilontarkan oleh Team Leader International Business Development, Asia Team 2 KAI, Park Seong-hee, di hadapan wartawan Indonesia dalam acara Indonesian Next-Generation Journalist Network yang diselenggarakan oleh Korea Foundation dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Sacheon, Korea Selatan, Kamis (11/6/2026).
“Kami ingin terus memperluas kemitraan ini. Kami berharap PT DI dapat menjadi mitra yang kuat dan menjadi bagian dari rantai pasok global kami,” ujar Park di sela-sela peninjauan fasilitas produksi KAI.
Pindahan Lini Produksi Pesawat Latih KT-1B ke Bandung
Park membeberkan bahwa jalinan kerja sama antara KAI dan PT DI sebetulnya telah terikat kuat dalam perjanjian kemitraan strategis di bidang pertahanan. Cetak biru kerja sama ini tidak hanya terpaku pada mega proyek jet tempur generasi 4.5 KF-21 Boramae saja, melainkan juga mencakup perawatan pesawat latih dasar KT-1B Woongbi serta berbagai program pengembangan pesawat sayap putar (rotary aircraft).
Menariknya, KAI juga memiliki rencana besar untuk melakukan relokasi industri ke dalam negeri. Fasilitas produksi mumpuni di Bandung dibidik untuk memegang peran yang jauh lebih masif dari sekadar perakitan lokal.
“Terkait program KT-1, kami juga berencana memindahkan lini produksi ke Indonesia sehingga fasilitas produksi di Indonesia dapat digunakan untuk mendukung program ekspor tambahan di masa depan,” kata Park memaparkan rencana ekspansi tersebut.
Langkah ini dipertegas oleh Director International Business Development Asia KAI, Jo Jun-hyun. Pada kesempatan yang sama, Jo menyampaikan bahwa KAI saat ini sedang menjalankan program penguatan struktur pesawat KT-1B milik TNI Angkatan Udara, di mana sebagian besar porsi pekerjaan teknologinya sudah dipercayakan penuh untuk dikerjakan oleh tangan-tangan ahli di PT DI.
Menanti Ketukan Palu Pengadaan 48 Unit Jet Tempur
Beralih ke proyek KF-21, pamor jet tempur buatan Korsel-RI ini dilaporkan kian mengilap di pasar alutsista dunia. Satu dari enam unit pesawat prototipe yang ada dijadwalkan akan segera dikirim ke Indonesia dalam waktu dekat.
KAI mencatat, pesawat supersonik ini telah memikat banyak calon pelanggan internasional, bahkan beberapa negara di luar kemitraan sudah mulai membuka obrolan serius mengenai peluang akuisisi.
Untuk kebutuhan pertahanan udara Indonesia sendiri, KAI menaruh harapan besar agar pemerintah pusat nantinya dapat merealisasikan pengadaan hingga 48 unit jet tempur KF-21 guna memperkuat jajaran skadron udara TNI AU.
“Saat ini pembicaraan memang masih berfokus pada tahap pertama. Namun, kami juga telah memperluas diskusi mengenai pengadaan tambahan KF-21 di masa mendatang. Kami memiliki komitmen yang kuat untuk terus memperluas kerja sama dengan Indonesia,” tambah Jo Jun-hyun optimistis.
Skema Baru Kontribusi 600 Miliar Won dan Peluang Ekspor
Sebagai catatan kilas balik, Korsel pertama kali meluncurkan proyek ambisius ini pada tahun 2015 untuk melahirkan jet tempur supersonik buatan dalam negeri yang mandiri. Indonesia kemudian bergabung sebagai mitra strategis dengan menyepakati skema berbagi biaya (cost-sharing) pengembangan. Sebagai imbalannya, Jakarta berhak mendapatkan transfer teknologi, unit prototipe, serta ketentuan produksi lokal lainnya.
Berdasarkan perkembangan terbaru, Badan Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korea Selatan diperkirakan bakal segera menetapkan jadwal penyerahan resmi prototipe dan dokumen teknologi terkait, tepat setelah Indonesia melunasi kontribusinya yang telah disesuaikan menjadi 600 miliar won (atau sekitar Rp6,8 triliun).
Indonesia pada awalnya menyepakati kontribusi sebesar 20 persen dari total biaya proyek. Namun, guna menyesuaikan kapasitas anggaran dan kebutuhan taktis, Jakarta mengusulkan penurunan kontribusi menjadi 6 persen, dengan konsekuensi adanya pengurangan tingkat transfer teknologi (technology transfer) secara proporsional.
Bersamaan dengan penyerahan unit prototipe fisik tersebut, kantor berita Korsel, Yonhap, melaporkan bahwa Seoul kini tengah melakukan negosiasi intensif dengan Jakarta untuk menandatangani kesepakatan ekspor perdana sebanyak 16 unit jet tempur KF-21.
Apabila kontrak ini berhasil diteken, maka pengiriman unit ke Indonesia tersebut akan mencatatkan sejarah baru sebagai penjualan luar negeri pertama bagi jet tempur supersonik kebanggaan masyarakat Negeri Ginseng itu.









