BI Habiskan Cadangan Devisa US$8,27 Miliar dalam 3 Bulan, Rupiah Tetap Saja ‘Loyo’

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 12 April 2026 – 03:09 WIB

Ilustrasi Bank Indonesia. (Foto: Antara)

Ilustrasi Bank Indonesia. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Mungkin tak banyak yang tahu, nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS (US$), saat penutupan perdagangan sepekan, atau pada Jumat (10/4/2026), menyentuh level Rp17.098/US$. Angka ini menjadi yang terendah dalam sejarah Indonesia.

Pada penutupan perdagangan tersebut, rupiah spot melemah 0,08 persen ke posisi Rp17.098/US$. Memang penyusutannya tidak signifikan, namun posisinya (closing) cukup mengkhawatirkan. karena menembus angka psikologis terbaru sebesar Rp17.000/US$. Saat perdagangan intraday, kurs rupiah sempat melebihi Rp17.100/US$.

Sejak awal tahun, rupiah menjadi mata uang terlemah ketiga di kawasan Asia, dengan pelemahan mencapai 2,48 persen. Angka ini masih lebih baik dibandingkan rupee India (-3,09 persen) dan won Korea Selatan (-3,09 persen).

Sementara itu, sejak perang AS-Israel dengan Iran, rupiah bertengger di posisi keempat terlemah, dengan pelemahan sebesar 1,48 persen. Hanya lebih baik dibandingkan won Korea Selatan (-3,05 persen), peso Filipina (-2,93 persen), dan baht Thailand (-2,25 persen).

Pelemahan mata uang Garuda sejak awal tahun ini cukup menggerus stok cadangan devisa (cadev). Terjadi penurunan yang cukup signifikan dalam tiga bulan berturut-turut.

Penurunan ini lumrah karena Bank Indonesia (BI) memerlukan cadev untuk melakukan operasi moneter demi menguatkan kembali kurs rupiah. Tapi perlu terus dikawal jangan sampai kebablasen penurunannya. Ketika cadev menipis, mau tak mau pemerintah atau bank sentral, harus menarik utang besar-besaran.

Berdasarkan catatan BI, cadev Desember 2025 sebesar US$156,47 miliar. Sebulan kemudian turun US$1,89 miliar menjadi US$154,58 miliar. Selanjutnya, cadev Februari 2026 susut lebih besar, yakni US$2,68 miliar menjadi US$151,9 miliar.

Sedangkan cadev Maret 2026, BI mencatat penurunan semakin dalam sebesar US$3,7 miliar menjadi US$148,2 miliar. Sehingga total susut cadev selama tiga bulan ini mencapai US$8,27 miliar. Alih-alih rupiah perkasa, realitasnya semakin loyo hingga di atas Rp17.000/US$.

Sebelumnya, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengingatkan soal anjloknya cadev dalam porsi yang signifikan. Kondisi ini menggambarkan adanya masalah serius terkait fundamental ekonomi di dalam negeri.

“Saat ini Indonesia terlalu terlena dengan narasi ekonomi kuat ditopang cadev di atas 150 miliar dolar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” imbuhnya.

Pemerintah, sambungnya, kerap menganggap kondisi ini, berada dalam posisi yang jauh lebih aman dibandingkan menjelang krisis 1997, yang menjadi cikal-bakal lengsernya pemerintahan Soeharto.

“Masalahnya, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta. Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh. Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,” ungkapnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang