Dokter Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa menyoroti perkembangan teknologi vaksin yang menurutnya telah mengalami perubahan signifikan pada abad ke-21.
Hal tersebut disampaikan Dokter Tifa dalam diskusi bertajuk “Kontroversi Vaksin: Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir?” yang diselenggarakan Inilah.com di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (30/8/2026).
Dokter Tifa: Vaksin Kini Berbasis Platform Biologi
Menurut Dokter Tifa, vaksin yang dikenal masyarakat selama ini tidak lagi dapat dipahami sebatas bahan biologis berupa virus atau kuman yang telah dilemahkan untuk memicu respons kekebalan tubuh.
“Jadi sekarang ini dia, vaksin yang kita ketahui di tahun 2026 ini sudah berubah menjadi platform biologi berbasis teknologi,” ujar Dokter Tifa.
Ia kemudian menggunakan analogi perkembangan kendaraan untuk menjelaskan perbedaan antara vaksin konvensional dan teknologi vaksin modern.
Analogi Vaksin dengan Kendaraan Listrik
Dokter Tifa membandingkannya dengan peralihan dari kendaraan berbahan bakar bensin menuju kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Menurut dia, kendaraan listrik tidak hanya dipandang sebagai kendaraan, tetapi juga sebagai sebuah platform teknologi yang memiliki sistem dan kemampuan berbeda.
“Jadi vehicle berbasis listrik itu platform, jadi kita mengendarai platform bukan mobil lagi. Orang-orang kan tahunya kita sudah kenal itu mobil, jadi berpikir itu mobil padahal itu platform,” katanya.
Analogi tersebut kemudian ia kaitkan dengan perkembangan teknologi vaksin. Dokter Tifa mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa teknologi vaksin terus berkembang seiring kemajuan biologi dan teknologi medis.
“Begitu juga dengan vaksin ini, kita mengira yang masuk atau ditusukkan ke tubuh kita adalah vaksin, tetapi itu sudah bukan vaksin lagi, itu adalah platform. Jadi teknologi ini sudah jauh dari yang dibayangkan,” ujarnya.
Buku Dokter Tifa Bahas Kontroversi Vaksin
Pandangan tersebut menjadi salah satu latar belakang Dokter Tifa menulis buku Kontroversi Vaksin: Jalan Pintas Mengubah Dunia.
Melalui buku tersebut, ia mengaku ingin masyarakat memperoleh perspektif yang lebih luas mengenai vaksin sekaligus memahami berbagai informasi yang berkembang di tengah publik.
Ia berharap buku tersebut dapat menjadi ruang untuk mengklarifikasi berbagai informasi dan teori konspirasi yang selama ini muncul terkait vaksin.
Tegaskan Tidak Anti Vaksin
Dokter Tifa juga menegaskan bahwa dirinya tidak berada pada posisi menolak vaksin secara keseluruhan. Ia mengakui terdapat keberhasilan vaksin dalam bidang kesehatan.
“Saya tidak anti vaksin karena ada keberhasilan di baliknya,” kata dia.
Namun, menurutnya, perkembangan teknologi yang sangat cepat juga perlu diikuti dengan pembahasan mengenai potensi risiko, efek samping, serta pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan penggunaan teknologi tersebut.
“Masalahnya adalah seringkali ketika teknologi diambil alih oleh mereka ini, di sini saya mau disclaimer ya, saya katakan mereka, saya tidak menggunakan istilah elite global atau God players atau siapapun juga. Ketika teknologi ini dikooptasi oleh mereka, maka banyak sisi-sisi negatif ataupun efek samping,” ungkapnya.
Pertanyakan Siapa yang Menentukan Vaksin
Karena itu, Dokter Tifa berharap buku yang ditulisnya dapat menjadi semacam peta jalan bagi masyarakat untuk memahami isu vaksin secara lebih luas, termasuk perkembangan teknologi yang menyertainya.
Ia juga mempertanyakan aspek kewenangan dan kebijakan dalam menentukan jenis teknologi atau produk medis yang dapat digunakan manusia.
“Jadi yang penting sebetulnya adalah sebuah pertanyaan yang harusnya kita tanyakan, siapa yang menentukan apa yang boleh masuk ke dalam tubuh manusia. Tapi vaksin itu seakan-akan di-mandatory-kan,” tandasnya.













