Dokter Tifa dan Eks Menkes Soroti Klaim Dampak Vaksin COVID-19 bagi Tubuh

Clara Medium.jpeg

Minggu, 30 Agustus 2026 – 22:10 WIB

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan Dokter Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa dalam acara 'Kontroversi Vaksin Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir' di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Minggu (30/8/2026).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan Dokter Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa dalam acara ‘Kontroversi Vaksin Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir’ di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Minggu (30/8/2026).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyoroti sejumlah kondisi kesehatan yang menurutnya muncul setelah program vaksinasi COVID-19 berlangsung. Dia mengaitkan vaksinasi dengan peningkatan kasus autoimun hingga memburuknya sejumlah penyakit.

Siti mengatakan reaksi imun yang terjadi berulang kali akibat vaksinasi dapat membuat sistem imun bekerja terlalu keras. Menurut dia, kondisi tersebut pada akhirnya dapat memicu masalah autoimun.

“Ada contohnya setelah vaksinasi COVID itu berlangsung maka terjadi suatu kenaikan yang sangat luar biasa autoimun karena dia berdampingan dengan reaksi imunologis,” ujar Siti dalam acara ‘Kontroversi Vaksin Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir’ di Mangkuluhur Artotel, Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Dia menjelaskan tubuh memproduksi antibodi sebagai bagian dari respons imun. Menurut dia, jika proses tersebut berlangsung berulang kali, tubuh dapat mengalami kelelahan.

“Kita itu memproduksi seperti antibodi, lama-lama capek sekali. Bisa dua kali, bisa, tapi 1.000 kali capek, akhirnya autoimun,” katanya.

Selain autoimun, Siti juga menyinggung diabetes dan kanker. Dia mengklaim terdapat kasus diabetes yang menjadi lebih berat serta kanker yang muncul setelah vaksinasi.

“Kedua, yang diabetes muncul lebih berat, yang ada kanker, kankernya muncul, jadi ada turbo cancer setelah vaksin,” ucap dia.

Dokter Tifa Soroti Vaksin Berbasis mRNA

Dalam kesempatan yang sama, Dokter Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa menanggapi pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan seseorang yang telah menerima vaksin berbasis teknologi mRNA.

Dokter Tifa mengaku pertanyaan tersebut sulit dijawab karena diperlukan data dan tanggung jawab yang jelas untuk memastikan dampak teknologi tersebut terhadap tubuh seseorang.

Namun, dia mempertanyakan aspek transparansi dan hak masyarakat dalam penggunaan teknologi berbasis mRNA. Menurut dia, masyarakat yang menerima vaksin seharusnya mendapatkan informasi mengenai teknologi yang digunakan, tujuan penggunaannya, serta potensi dampaknya terhadap tubuh.

“Yang harus kita bertanya ketika teknologi platform mRNA dan seterusnya ini masuk ke dalam tubuh, apakah orang yang dimasuki teknologi itu diberitahu apa sebetulnya ini, kemudian mau atau tidak, kemudian bagaimana dampaknya yang terjadi pada tubuh, lalu antisipasinya bagaimana,” jelas dia.

Menurut dia, hal tersebut merupakan bagian dari hak setiap orang yang mendapatkan vaksin. Dia juga menilai pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melakukan antisipasi dan pengawasan terhadap penggunaan teknologi vaksin.

“Mandatori, responsibility justru pada pemerintah. Pemerintah menerima vaksin, tetapi harus melakukan antisipasi,” katanya.

Tifa kemudian menyinggung sejumlah kondisi kesehatan yang menurutnya perlu menjadi perhatian setelah program vaksinasi. Dia menyebut adanya peningkatan kasus tertentu yang dikaitkannya dengan pembekuan darah dan gangguan sistem imun.

“Seperti contoh yang terjadi, kasus D-dimer meningkat luar biasa, itu cikal bakal terjadinya pengentalan darah, kemudian ada sumbatan kepada pembuluh darah dan seterusnya,” tuturnya.

Dia juga menyinggung kemungkinan terjadinya gangguan autoimun yang dikaitkan dengan penggunaan vaksinasi.

Namun, Dokter Tifa menegaskan persoalan yang dipermasalahkannya bukan semata-mata vaksin, melainkan platform teknologi yang digunakan.

“Bukan vaksinnya, tapi platform teknologi itu yang menjadi persoalan di situ. Andaikata vaksin itu vaksin konvensional yang dulu, virus yang dilemahkan seperti yang kita tahu dulu, yang kemudian berhasil melawan cacar, why not,” ucapnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang