Warga Palestina mencari barang-barang di antara reruntuhan, tenda-tenda yang rusak, dan barang-barang rumah tangga setelah serangan udara Israel di lingkungan Al-Nasr di barat Gaza City, Kamis (30/7/2026). (Foto: AFP/Mohammed M Skaik)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Masa depan pengelolaan Jalur Gaza mulai menunjukkan titik terang. Komite teknokratik transisional Palestina yang beranggotakan 15 orang mengonfirmasi kesiapan penuh mereka untuk memikul tanggung jawab tata kelola di daerah kantong tersebut, menyusul munculnya kemajuan signifikan dalam perundingan gencatan senjata.
Komite yang memiliki nama resmi Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (National Committee for the Administration of Gaza/NCAG) tersebut menyatakan telah merampungkan seluruh persiapan institusional dan operasional selama beberapa bulan terakhir.
Kesiapan ini mencakup pengambilalihan tata kelola pemerintahan, pemulihan layanan publik dasar, penegakan supremasi hukum, pemfasilitasan distribusi bantuan kemanusiaan, hingga memimpin proyek raksasa pemulihan dan rekonstruksi Gaza.
Tugas Raksasa dan Butuh Dukungan Global
Kendati demikian, pihak komite menyadari betul bahwa membenahi kawasan yang hancur lebur akibat perang bukanlah perkara mudah. NCAG menggambarkan tugas di hadapan mereka sebagai tanggung jawab yang sangat besar.
Pihaknya menegaskan bahwa proses pembangunan kembali Gaza membutuhkan komitmen berkelanjutan dari masyarakat internasional, pasokan dana yang substansial, serta kerja sama erat dari seluruh pemangku kepentingan.
Langkah NCAG ini mengemuka hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim pada Kamis (30/7/2026) bahwa Dewan Perdamaian telah mencapai kesepakatan terkait pelucutan senjata secara penuh terhadap Hamas dan kelompok bersenjata lainnya di Gaza.
Hamas Bantah Pelucutan, Tekankan Skema Bertahap
Di sisi lain, sumber-sumber internal Palestina membenarkan bahwa Hamas telah menyampaikan persetujuannya kepada para mediator terkait draf final peta jalan (roadmap) gencatan senjata tahap kedua.
Namun, pihak Hamas meluruskan narasi soal istilah pelucutan senjata yang dilontarkan pihak AS. Anggota delegasi negosiasi Hamas, Ghazi Hamad, menegaskan bahwa faksi-faksi Palestina telah menyepakati mekanisme implementasi tahap kedua, yang mencakup proses pendataan dan penyimpanan senjata secara bertahap di bawah pengawasan NCAG.
Hamad menolak keras jika skema tersebut dibingkai sebagai bentuk pelucutan atau penyerahan senjata secara sepihak.
“Isu senjata tetap berkaitan erat dengan penyerahan dan implementasi ketentuan lain dari perjanjian tersebut, khususnya penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza serta dimulainya proses rekonstruksi secara nyata,” tegas Hamad dalam pernyataan resminya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









