Kisah Pak Cacang, 25 Tahun Jalan Kaki ke Sekolah Kini Dapat Motor dari 1 Miliar Kebaikan

Selama hampir 25 tahun, Cacang Hidayat (56) memulai harinya dengan cara yang sama. Seusai salat Subuh, ia melangkah keluar dari rumah sederhananya di Kampung Koncang, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten.

Tujuannya adalah SMP Negeri 2 Cibadak, tempatnya mengabdi sebagai tenaga honorer sejak 2001.

Untuk mencapai sekolah, Pak Cacang harus berjalan kaki sejauh sekitar enam kilometer. Perjalanan itu memakan waktu hingga dua jam. Jalan setapak, kebun, sawah, hingga ruas jalan desa yang rusak menjadi rute yang harus dilaluinya.

Sore hari, perjalanan serupa kembali ditempuh untuk pulang ke rumah.

Artinya, selama hampir seperempat abad, Pak Cacang berjalan kaki sekitar 12 kilometer dalam sehari untuk berangkat dan pulang mengabdi di sekolah.

Bukan karena ingin berolahraga. Ia berjalan kaki karena tidak memiliki kendaraan dan tidak tersedia angkutan umum yang dapat membawanya dari rumah menuju tempatnya bekerja.

Kini, perjalanan panjang itu berubah.

Kisah pengabdian Pak Cacang yang pertama kali diberitakan INILAH.COM menarik perhatian banyak pembaca. Setelah kisah tersebut mencuat, Tim Program 1 Miliar Kebaikan berinisiatif mencari dan menemui langsung sosok yang selama puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan tersebut.

Mencari Rumah Pak Cacang

Perjalanan menemukan rumah Pak Cacang bukan perkara mudah. Ia bahkan tidak memiliki telepon genggam sehingga tim tidak dapat menghubunginya terlebih dahulu.

Berbekal informasi dari warga dan bantuan seorang relawan desa yang memahami wilayah pelosok Lebak, tim akhirnya berhasil menemukan rumah sederhana tempat Pak Cacang tinggal bersama keluarganya.

Menariknya, rumah tersebut ternyata berada tidak jauh dari kediaman Rendy, sosok inspiratif lain yang sebelumnya juga menjadi bagian dari Program 1 Miliar Kebaikan.

Pertemuan dengan Pak Cacang berlangsung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia pun tampak terkejut ketika mengetahui tim INILAH.COM datang langsung menemuinya.

Diajak ke Dealer, Tak Tahu Akan Dibelikan Motor

Tanpa menjelaskan kejutan yang telah disiapkan, tim kemudian mengajak Pak Cacang menuju sebuah dealer sepeda motor Honda di Rangkasbitung.

Awalnya, Pak Cacang mengira dirinya hanya diminta menemani tim. Namun, sesampainya di dealer, sebuah kejutan telah menunggunya.

Tim Program 1 Miliar Kebaikan menyiapkan satu unit sepeda motor matik dengan ground clearance yang relatif tinggi. Jenis kendaraan itu dipilih dengan mempertimbangkan kondisi jalan menuju kediaman Pak Cacang yang sebagian masih rusak dan berbatu.

Tak hanya sepeda motor, Pak Cacang juga menerima dua unit telepon genggam sederhana agar dirinya dan sang istri lebih mudah berkomunikasi dan dihubungi.

“Sebenarnya saya juga sudah dijanjikan mau dibelikan motor sama beberapa pihak, tapi saya enggak nyangka kok Bapak-bapak dari INILAH.COM tiba-tiba bawa saya dan beliin saya motor,” ujar Pak Cacang.

Bagi pria yang selama puluhan tahun berjalan kaki menuju sekolah, kendaraan tersebut bukan sekadar alat transportasi.

Sepeda motor itu akan memangkas perjalanan yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan berjalan kaki menjadi hanya beberapa puluh menit.

Setelah hampir 25 tahun berangkat dan pulang dengan berjalan kaki, Pak Cacang akhirnya bisa membawa pulang kendaraan yang akan menemaninya melanjutkan pengabdian di dunia pendidikan.

Istri Pilih Perlengkapan Sekolah untuk Anak

Setelah menyerahkan sepeda motor dan telepon genggam, tim mengajak Pak Cacang beserta keluarganya membeli pakaian baru.

Namun, sang istri justru menyampaikan permintaan berbeda.

Alih-alih membeli pakaian untuk dirinya sendiri, ia memilih agar anggaran tersebut digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah anak-anak mereka.

Tahun ajaran baru segera dimulai. Anak bungsu mereka yang lahir pada 2020 dan diberi nama “Corona” karena lahir pada masa pandemi COVID-19 akan memasuki kelas 1 sekolah dasar.

Sementara kakak-kakaknya juga tengah bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Tim kemudian mengajak keluarga Pak Cacang membeli berbagai kebutuhan pendidikan, mulai dari tas sekolah, sepatu, buku tulis, alat tulis, hingga perlengkapan lainnya.

Senyum anak-anak Pak Cacang mengiringi momen ketika berbagai kebutuhan sekolah tersebut akhirnya bisa mereka bawa pulang.

Bantuan untuk Mengembalikan Pinjaman Kas Masjid

Di balik perjalanan pengabdiannya, Pak Cacang menyimpan kisah lain yang selama ini jarang diketahui.

Setelah puluhan tahun berstatus sebagai tenaga honorer, ia akhirnya menerima status sebagai PPPK Paruh Waktu pada akhir 2025.

Namun, ketika hendak mengikuti pelantikan dan mengambil Surat Keputusan (SK) di Kota Serang, Pak Cacang menghadapi persoalan biaya.

Ia akhirnya meminjam uang sebesar Rp2 juta dari kas masjid untuk membiayai perjalanan dan berbagai kebutuhan administrasi.

Karena itu, selain memberikan bantuan kendaraan dan kebutuhan keluarga, Program 1 Miliar Kebaikan juga menyerahkan bantuan uang tunai agar Pak Cacang dapat segera mengembalikan pinjaman tersebut.

Bagi Pak Cacang, kemampuan untuk melunasi amanah itu menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri.

Mengapresiasi Mereka yang Diam-diam Mengabdi

Program 1 Miliar Kebaikan merupakan gerakan sosial yang diinisiasi INILAH.COM untuk menemukan dan membantu orang-orang yang menjalani kehidupan dengan ketulusan dan pengabdian, tetapi selama ini jarang mendapat perhatian.

Pak Cacang menjadi salah satu sosok yang dipilih bukan semata-mata karena keterbatasan ekonomi yang dihadapinya.

Dedikasi, integritas, dan konsistensinya menjaga pendidikan selama hampir 25 tahun menjadi alasan utama kisahnya mendapat perhatian.

Selama puluhan tahun, keterbatasan transportasi tidak menghentikan langkahnya menuju sekolah. Enam kilometer ia tempuh setiap pagi dan enam kilometer lainnya dilalui untuk kembali kepada keluarga.

Kini, perjalanan itu tak lagi harus ditempuh sepenuhnya dengan berjalan kaki.

Sepeda motor yang dibawa pulang Pak Cacang mungkin akan mengubah cara ia menuju sekolah. Waktu tempuh menjadi lebih singkat dan perjalanan menjadi lebih ringan.

Namun, satu hal tidak berubah: semangat pengabdian yang selama hampir seperempat abad membuatnya terus berangkat sebelum matahari terbit demi menjaga pendidikan anak-anak di sekolahnya.