Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani memaparkan realisasi investasi sepanjang Januari-Juni 2026 di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal sekaligus Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Rosan Perkasa Roeslani mengatakan komposisi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sepanjang Januari–Juni 2026 berlangsung relatif seimbang.
Hal tersebut disampaikan Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (16/7/2026) usai diterima Presiden RI Prabowo Subianto.
“Nah, kemudian PMA-PMDN-nya, ini juga relatif hampir sama. Total investasi dalam negerinya mencapai Rp502,9 triliun atau 49,8 persen, dan PMA-nya ini mencapai Rp507,6 triliun,” kata Rosan kepada wartawan.
Dari sisi wilayah, investasi juga tersebar cukup merata antara Pulau Jawa dan luar Jawa. Investasi di Pulau Jawa mencapai Rp502,8 triliun atau 49,8 persen dari total realisasi nasional, sedangkan luar Jawa sedikit lebih tinggi dengan Rp507,8 triliun atau sekitar 50,2 persen.
“Dan kalau kita lihat di pojok sebelah kiri, ini perbandingan Jawa dan luar Jawa, sepertinya kembali lagi hampir sama; di Jawa ini 49,8 persen atau Rp502,8 triliun atau peningkatan 7,7 persen, sedangkan luar Jawa peningkatan 6,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya atau Rp507,8 triliun,” ujarnya.
Kendati demikian, Rosan menyoroti jika dilihat berdasarkan provinsi, DKI Jakarta masih menjadi pusat investasi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi gabungan PMA dan PMDN di ibu kota mencapai Rp173,6 triliun atau 17,2 persen dari total investasi nasional.
Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat dengan investasi Rp138,1 triliun, disusul Jawa Timur sebesar Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun.
“Untuk totalnya memang gabungan antara PMA dan PMDN itu DKI Jakarta masih menduduki tempat pertama, 17,2 persen (Rp173,6 triliun). Kemudian diikuti dengan Jawa Barat Rp138,1 triliun, Jawa Timur Rp72,7 triliun, Sulawesi Tengah Rp68,7 triliun, dan Banten Rp66,3 triliun,” jelasnya.
Selain itu, Rosan mengatakan semakin kuatnya daya tarik kawasan luar Jawa bagi investor asing. Menurutnya, tiga provinsi di luar Pulau Jawa berhasil masuk dalam lima besar tujuan PMA berkat pesatnya investasi di sektor mineral dan hilirisasi.
“Tetapi kalau kita lihat memang dari segi PMA, ada dua, ada tiga daerah yang berasal dari luar Jawa: Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau. Karena memang ini investasi banyak di bidang minerals ya,” tuturnya.
Sementara berdasarkan data BKPM menunjukkan Jawa Barat menjadi tujuan terbesar PMA dengan nilai Rp84,9 triliun atau 16,7 persen. Posisi berikutnya ditempati DKI Jakarta (Rp67,1 triliun), Sulawesi Tengah (Rp64,7 triliun), Maluku Utara (Rp61,8 triliun), dan Kepulauan Riau (Rp26,4 triliun).
Sementara pada investasi dalam negeri, DKI Jakarta tetap mendominasi dengan realisasi Rp106,5 triliun atau 21,2 persen, diikuti Jawa Barat (Rp53,2 triliun), Jawa Timur (Rp49,8 triliun), Banten (Rp42,2 triliun), dan Nusa Tenggara Barat (Rp28 triliun).
“Kemudian juga di penanaman modal dalam negerinya, ini kalau bisa dilihat langsung ya, urutan pertama DKI Jakarta dengan Rp106,5 triliun, 21,2 persen. Diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat,” paparnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










