Langkah kontroversial diambil oleh raksasa otomotif asal Amerika Serikat (AS), General Motors (GM). Hanya berselang beberapa pekan setelah merumahkan lebih dari 1.000 karyawannya di pabrik kendaraan listrik (EV) Factory Zero, korporasi raksasa yang menaungi merek Chevrolet, GMC, Buick, hingga Cadillac ini justru kedapatan mulai memasang puluhan robot baru di sepanjang lini perakitan mereka.
Mengutip laporan Carscoops, Minggu (21/6/2026), kebijakan GM ini memperpanjang daftar produsen otomotif global yang mulai berpaling pada sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Strategi pemanfaatan robotika ini sengaja diambil demi memangkas ongkos tenaga kerja manusia secara drastis, sekaligus menjaga ritme produksi domestik agar tetap kompetitif.
Presiden United Auto Workers (UAW) Local 22, James Cotton, mengonfirmasi bahwa GM telah menyuntikkan sekitar 50 unit robot kolaboratif, atau yang dikenal dengan istilah cobot, ke dalam fasilitas produksi mereka. Mesin-mesin pintar buatan Fanuc ini diprogram untuk bekerja berdampingan dengan manusia guna memasang berbagai komponen kendaraan di sepanjang jalur perakitan.
Buruh Mengaku Muak Ditendang Mesin
Kehadiran puluhan robot baru ini langsung memantik reaksi keras dan gelombang resistansi dari internal serikat pekerja. Cotton menilai ekspansi mesin di ruang produksi tersebut secara terang-terangan telah merampas ruang mata pencaharian para buruh yang ia wakili, terlebih momentumnya bertepatan setelah adanya pemangkasan massal.
“Selalu ada kekhawatiran besar ketika melihat robot masuk ke dalam pabrik, terutama setelah mereka mem-PHK lebih dari seribu orang. Manajemen berdalih bahwa ini adalah gelombang masa depan. Jika memang demikian, artinya mereka sedang melenyapkan pekerjaan manusia,” ujar Cotton dengan nada masygul.
Ia menambahkan, saat ini para anggota serikat pekerja merasa “muak” dengan dominasi robot yang kian menyudutkan posisi buruh. Atas dasar tersebut, UAW Local 22 telah melayangkan keberatan resmi kepada manajemen GM terkait penerapan teknologi ini, sekaligus menyuarakan kekhawatiran aspek keselamatan mengingat mesin-mesin tersebut beroperasi dalam jarak yang sangat dekat dengan pekerja manusia.
Menanggapi tudingan miring tersebut, Juru Bicara GM, Kevin Kelly, langsung pasang badan. Kelly berdalih bahwa pemasangan puluhan cobot tersebut merupakan bagian dari peta jalan perusahaan untuk menyuntikkan teknologi mutakhir ke dalam sistem operasional mereka. GM mengeklaim kehadiran robot justru membantu meningkatkan ergonomi dan keselamatan kerja di lantai pabrik, sembari menjaga fleksibilitas bisnis perusahaan di pasar global.
Efisiensi Robotika Reduksi 70 Persen Jam Kerja
Sengkarut otomatisasi ini sejatinya merupakan tren jangka panjang yang sedang merevolusi industri manufaktur dunia. Pakar industri otomotif, Masters, menjelaskan kepada Crain’s Detroit bahwa jumlah waktu kerja yang dibutuhkan manusia untuk merakit satu unit kendaraan telah menyusut drastis sekitar 50 hingga 70 persen jika dibandingkan dengan medio 1980-an silam.
Fasilitas Factory Zero milik GM yang berlokasi di Detroit-Hamtramck ini awalnya direvitalisasi total dengan investasi besar agar dapat memproduksi mobil listrik secara eksklusif. Namun, lesunya permintaan pasar EV di Amerika Serikat memaksa manajemen mengambil keputusan pahit berupa pengurangan sif kerja, penghentian produksi sementara secara berkala, hingga berujung pada pemecatan massal para pekerjanya.
Ancaman Nyata Eksistensi Manusia di Sektor Manufaktur
Isu hilangnya pekerjaan akibat digitalisasi ini diprediksi akan menjadi sumbu ledak utama yang memanaskan tensi perundingan kontrak kerja antara serikat buruh dan pengusaha pada tahun 2028 mendatang.
Presiden UAW Pusat, Shawn Fain, menegaskan bahwa fenomena yang terjadi di pabrik GM merupakan alarm keras bagi masa depan kaum pekerja. Kehadiran kecerdasan buatan dan robot humanoid bukan lagi sekadar wacana fiksi ilmiah, melainkan ancaman nyata di depan mata.
“Saat ini kita sedang berhadapan langsung dengan salah satu revolusi teknologi paling mendalam dalam sejarah hidup kita. Hadirnya AI, ancaman robot humanoid, serta otomatisasi massal adalah tantangan besar yang mengancam cara hidup kita, tatanan ekonomi kita, hingga sistem politik kita,” cetus Fain menutup penjelasannya.













