Pemerintah China menentang keras keputusan Amerika Serikat (AS) yang memasukkan perusahaan-perusahaannya ke dalam daftar hitam. Sejumlah raksasa teknologi kenamaan China, termasuk Alibaba, Baidu, hingga produsen kendaraan listrik BYD, resmi masuk dalam daftar hitam Pentagon karena dituduh ikut menyokong kepentingan militer China.
“China secara konsisten dan tegas menentang generalisasi konsep keamanan nasional oleh Amerika Serikat dan penindasan yang tidak masuk akal terhadap perusahaan-perusahaan China,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dikutip dari AFP, Kamis (11/6/2026).
Lin mendesak Washington untuk segera memperbaiki praktik-praktik yang keliru tersebut.
Beijing Siapkan Langkah Balasan
Ia memperingatkan, Beijing tidak akan tinggal diam. Pihaknya menyatakan siap mengambil seluruh langkah proteksi yang diperlukan guna melindungi hak-hak hukum serta kepentingan sah dari perusahaan-perusahaan domestik yang disasar oleh AS.
Daftar hitam terbaru yang dirilis Pentagon ini mencakup total 80 perusahaan beserta anak perusahaannya. Struktur daftar ini sebagian besar serupa dengan draf yang sempat dipublikasikan pada Februari lalu.
Kendati demikian, terdapat dua produsen cip memori besar yang kini dimasukkan kembali setelah sempat dihapus dalam pembaruan sebelumnya. Dua produsen semikonduktor yang kembali masuk daftar hitam tersebut adalah ChangXin Memory Technologies dan Yangtze Memory Technologies.
Hubungan Diplomatik Terancam Renggang
Rilis data dari Pentagon ini berpotensi merenggangkan kembali hubungan diplomatik dan ekonomi dua negara dengan PDB terbesar di dunia tersebut. Padahal, para pemimpin kedua negara baru saja menggelar pertemuan bilateral di Beijing bulan lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden AS Donald Trump bahkan telah mengundang Presiden Xi Jinping untuk melakukan kunjungan balasan ke Washington pada September mendatang.
Perusahaan-perusahaan yang menjadi target dalam daftar terbaru Departemen Pertahanan AS mencakup beberapa raksasa teknologi terkemuka China yang terlibat dalam kecerdasan buatan, termasuk Alibaba, Baidu, dan Tencent. Adapun Tencent sendiri memang sudah masuk dalam daftar hitam sebelumnya.
Respons Keras Korporasi China
Menanggapi hal itu, pihak Alibaba menyebut keputusan itu sebagai sebuah kesalahan, sementara Baidu mengatakan tidak ada pembenaran yang kredibel untuk menambahkan mereka ke dalam daftar tersebut.
Raksasa kendaraan listrik BYD turut bereaksi dengan menyatakan bahwa keputusan AS tersebut sama sekali tidak memiliki pembenaran. Keputusan tersebut dinilai memiliki sedikit implikasi hukum langsung bagi banyak perusahaan, meskipun hal itu dipandang sebagai langkah yang dapat mendahului tindakan yang lebih bersifat menghukum.
Perusahaan lain dalam daftar tersebut termasuk perusahaan farmasi WuXi AppTec dan perusahaan rintisan Unitree yang memproduksi robot humanoid.
Seorang juru bicara WuXi AppTec menegaskan, pencantuman nama perusahaan mereka jelas merupakan sebuah kesalahan.
“Perusahaan tidak dimiliki, dikendalikan, atau berafiliasi dengan entitas militer atau pemerintah Tiongkok mana pun, dan juga tidak menyediakan layanan kepada militer,” tegasnya.













