Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). (Foto: Antara/Putra M. Akbar)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Gejolak pasar keuangan sepanjang Mei 2026, memperlihatkan persoalan utama bukan sekadar soal volatilitas jangka pendek. Melainkan kuatnya kerentanan struktural terhadap tekanan global dan arus modal asing.
Hal tersebut disampaikan Kusfiardi, analis ekonomi politik pasar saham sekaligus Co-Founder FINE Institute, dalam analisis terbarunya terkait pelemahan IHSG dan rupiah sepanjang periode 18–22 Mei 2026.
“Yang terjadi bukan hanya koreksi biasa. Pasar sedang menunjukkan bahwa struktur pasar keuangan Indonesia masih rapuh, terlalu bergantung pada foreign flow, dan belum memiliki kedalaman domestik yang cukup kuat untuk menyerap shock eksternal,” ujar Kusfiardi di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Sepanjang pekan tersebut, IHSG turun dari level 6.599,24 ke 6.162,04, atau mengalami pelemahan 6–7 persen secara mingguan. Bahkan pada perdagangan 21 Mei 2026, IHSG sempat menyentuh level 6.094,94, atau mendekati batas psikologis 6.000. Pada saat yang sama, rupiah juga melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS.
Menurut Kusfiardi, kombinasi jatuhnya pasar saham dan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah, secara bersamaan menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bukan hanya persoalan sektoral tapi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas sistem keuangan nasional secara keseluruhan.
Ia menilai, rumor pembentukan BUMN ekspor komoditas dan kebijakan ekspor satu pintu, bukan satu-satunya pemantik kepanikan pasar. Akar tekanan sebenarnya sudah terbentuk sebelumnya, melalui kombinasi foreign outflow, rebalancing MSCI, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketidakpastian global.
“Rumor BUMN ekspor lebih tepat dipahami sebagai katalis, mempercepat tekanan yang sebenarnya sudah lebih dulu terbentuk. Tekanan utamanya berasal dari arus keluar modal asing, dan rapuhnya struktur pasar domestik,” jelasnya.
Kusfiardi menyoroti, keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar milik para konglomerat, seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN dari indeks global. Fenomena itu, menjadi salah satu faktor dominan yang mempercepat tekanan pasar.
Menurutnya, kasus tersebut memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia masih berada dalam orbit external market discipline, di mana perubahan keputusan lembaga indeks global dapat langsung memengaruhi stabilitas pasar domestik.
“Pasar Indonesia masih sangat sensitif terhadap perubahan persepsi investor global. Ketika foreign flow keluar secara agresif, dampaknya langsung terasa pada IHSG dan rupiah secara bersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan terhadap IHSG terlihat jauh lebih besar dibanding pelemahan rupiah, yang mengindikasikan adanya tekanan likuiditas dan reposisi portofolio besar-besaran di pasar saham domestik.
“Biasanya pelemahan rupiah dan koreksi IHSG bergerak relatif seimbang. Tetapi kali ini pasar saham jatuh jauh lebih dalam. Ini memberi sinyal adanya tekanan teknikal dan distribusi besar di pasar,” kata Kusfiardi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












