Wisatawan mancanegara tengah menikmati alam dengan latar belakang Gunung Semeru, Jawa Timur. (Foto: pantura7.com)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita mengatakan, mahalnya harga avtur menimbulkan efek berantai yang alirannya sangat cepat.
Berdampak kepada naiknya harga tiket pesawat, penurunan frekuensi penerbangan, hingga seleksi ketat dalam pembukaan rute baru. Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyak destinasi wisata unggulan berjarak jauh, biaya transportasi udara sangat menentukan daya saing dibanding Thailand, Vietnam, maupun Malaysia.
“Jadi kalau target wisatawan mancanegara (wisman) dipatok 17,6 juta, tetapi biaya menuju Indonesia semakin mahal, maka target tersebut otomatis menjadi lebih berat dicapai. Apalagi masalahnya saat ini tidak hanya jumlah wisatawan yang turun, tetapi juga perilaku belanja mereka,” ujar Ronny kepada Inilah.com di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Ia menyebut wisatawan global saat ini sangat sensitif terhadap perubahan harga karena ekonomi dunia belum benar-benar pulih. Selain itu, tingkat suku bunga global masih tinggi dan daya beli kelas menengah dunia mulai mengalami tekanan.
Dalam situasi tersebut, kata Ronny, kenaikan tiket akibat mahalnya avtur membuat wisatawan memilih destinasi alternatif yang lebih murah dan efisien. Apalagi, wisata modern saat ini sangat dipengaruhi platform digital pembanding harga.
“Selisih tiket beberapa ratus dolar AS saja bisa menggeser keputusan wisatawan internasional. Jadi tekanan terhadap sektor pariwisata bukan hanya secara psikologis, tetapi benar-benar riil secara ekonomi,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Ronny menilai tantangan terbesar Indonesia justru terletak pada struktur biaya logistik dan transportasi yang masih mahal. Selama ini, pemerintah dinilai terlalu fokus mengejar target kunjungan, tetapi kurang serius membangun ekosistem biaya wisata yang kompetitif.
“Negara lain memberi banyak insentif untuk maskapai, airport charge, hingga promosi penerbangan langsung. Sementara di Indonesia, maskapai menghadapi tekanan berlapis, mulai dari avtur mahal, kurs dolar AS tinggi, biaya bandara besar, suku cadang impor mahal, hingga pajak,” tuturnya.
Akibatnya, harga tiket penerbangan domestik maupun internasional sulit turun secara signifikan. Kondisi tersebut membuat sektor pariwisata Indonesia rentan terhadap gejolak energi global.
Ia menuturkan, jika pemerintah ingin target wisman tetap realistis, maka kebijakannya tidak bisa hanya sebatas promosi pariwisata atau festival budaya. Menurutnya, yang harus dibenahi adalah struktur biaya penerbangan.
“Pemerintah harus berani mengevaluasi rantai distribusi avtur, membuka kompetisi yang lebih sehat, memberi insentif penerbangan internasional strategis, dan menekan berbagai biaya non-operasional yang membebani maskapai. Karena wisatawan asing tidak membeli slogan, mereka membeli keterjangkauan, kemudahan, dan efisiensi perjalanan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pariwisata saat ini bukan lagi semata soal keindahan alam, melainkan siapa yang paling efisien menciptakan biaya perjalanan yang kompetitif.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











