Spanyol Kecam Israel Usai Tahan Aktivis Global Sumud Flotilla

Pemerintah Spanyol mengambil sikap tegas terhadap arogansi militer Israel di perairan internasional. Kementerian Luar Negeri Spanyol secara resmi menuntut pembebasan segera warganya yang ditangkap paksa dalam penyergapan brutal terhadap armada kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026.

Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares, mengecam keras insiden yang menimpa Saif Abukeshek, warga negara Spanyol-Swedia keturunan Palestina. Abukeshek, bersama Thiago Ávila asal Brasil, menjadi dua sosok yang diisolasi dan dibawa paksa ke Tel Aviv usai armada mereka digempur pada Rabu (29/4/2026).

Berbicara kepada Al Jazeera pada Minggu (3/5/2026), Albares secara blak-blakan menyebut tindakan rezim Zionis tersebut sebagai sebuah aksi kriminal di laut lepas.

“Penangkapan itu dilakukan di luar yurisdiksi Israel, dan tentu saja, ini adalah penculikan,” tegas Albares.

Dalih Tanpa Bukti

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel mencoba menjustifikasi penahanan tersebut dengan menuding Abukeshek sebagai anggota utama Palestinian National Conference Abroad (PCPA). Israel, mengutip klaim Amerika Serikat, menuduh organisasi itu beroperasi di bawah arahan kelompok Hamas.

Namun, diplomat top Spanyol itu langsung mematahkan narasi sepihak tersebut. Albares menegaskan bahwa tuduhan berat itu hanya klaim kosong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Israel tidak pernah menunjukkan bukti apa pun terkait hubungan Abukeshek dengan Hamas,” tegas Albares, menelanjangi lemahnya dalih penahanan warganya.

Brutalitas di Laut Lepas dan Korban Luka

Penyergapan armada GSF yang bertujuan menembus blokade Gaza ini bukan operasi pencegatan biasa. Angkatan Laut Israel mengerahkan drone tempur dan teknologi pengacau komunikasi (jammer) tingkat tinggi untuk melumpuhkan 22 kapal di lepas pantai Pulau Kreta—ratusan mil dari wilayah yang diklaim sebagai teritori Israel.

Operasi militer tersebut diwarnai dengan aksi kekerasan. Sebanyak 175 aktivis di atas kapal ditahan secara paksa dan digiring ke Yunani. Tragedi tidak berhenti di situ; banyak dari relawan tersebut yang mengalami luka-luka akibat tindakan represif tentara Zionis.

Albares mengungkapkan, Konsul Spanyol di Yunani harus turun tangan langsung untuk mengevakuasi sejumlah aktivis kemanusiaan ke rumah sakit setempat akibat cedera yang mereka alami pasca-penyergapan.

Sementara nasib ratusan relawan lainnya berujung di Yunani, Israel secara khusus memisahkan Abukeshek dan Ávila, mengangkut keduanya ke Tel Aviv. Pihak Spanyol mengonfirmasi bahwa Konsul Spanyol di Tel Aviv akhirnya baru diberikan izin untuk menemui Abukeshek pada Sabtu (2/5/2026) kemarin, di tengah desakan internasional yang terus menguat.

Kasus ini kembali menyoroti kebiasaan Israel yang kerap mengabaikan hukum laut internasional dan menggunakan label “terorisme” untuk memberangus gerakan solidaritas global bagi kemanusiaan di Palestina.