Menko Perekonomian Darmin Nasution periode 2015-2019 dalam acara Simposium PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero/SMI) 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026). (Foto: ANTARA/Bayu Saputra).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Masih ingat Darmin Nasution, Menko Perekonomian di periode pertama pemerintahan Jokowi. Dia mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam mengelola subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat geopolitik Timur Tengah yang semakin sulit diprediksi.
Dalam hal ini, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) itu menyebut pemerintah perlu melakukan penyesuaian terhadap postur anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM). Di mana kebijakan menahan harga BBM bersubsidi ketika harga minyak mentah (crude oil) dunia meningkat berimplikasi langsung terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Saat ditemui dalam acara Simposium PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026), dia menerangkan, ketika harga minyak global naik sementara harga BBM di dalam negeri ditahan, pemerintah harus menanggung selisih biaya melalui subsidi yang lebih besar.
Kondisi itu meningkatkan kebutuhan pembiayaan sehingga memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). “Artinya ya Anda (pemerintah) membuat harga BBM di dalam negeri itu tetap tidak naik, misalnya, ya itu dia akan keluar tekanannya di tempat lain (nilai tukar rupiah),” ujar Darmin.
Darmin menekankan, dalam situasi ketidakpastian global saat ini, pemerintah tidak dapat menjaga seluruh indikator ekonomi tetap optimal secara bersamaan. Kebijakan untuk menahan harga energi perlu diimbangi dengan konsekuensi pada sisi lain, seperti meningkatnya beban fiskal atau tekanan terhadap nilai tukar.
Maka dari itu, dia memandang diperlukan penyesuaian kebijakan agar beban tersebut tidak semakin membesar. “Jadi itu adalah cost yang harus dipikul karena Anda tidak mau adjust di sini (subsidi BBM). Harus ada adjustment supaya yang ke sana semua dia ke nilai tukar,” jelas Darmin.
Saat ini, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (22/4) melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.181 per dolar AS, ketimbang penutupan kemarin yang menclok ke level Rp17.143 per dolar AS.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini akibat ketidakpastian gencatan senjata antara AS dengan Iran.
“Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global,” katanya.
Langkah yang diambil Trump dinilai tampak sepihak, dan belum jelas apakah Iran atau Israel akan setuju untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua pekan sebagaimana disepakati sebelumnya.
Di sisi lain, Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mempertahankan blokade pelabuhan dan pantai Iran, yang oleh para pemimpin Iran disebut sebagai tindakan perang.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











