Meski Petinggi BI Jarang Tidur Pelototi Rupiah: Kurs Tetap Paling Jeblok di Asia

Iwan Medium.jpeg

Rabu, 15 April 2026 – 06:09 WIB

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Anjlok (Doc. Freepik)

Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah Anjlok (Doc. Freepik)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tekanan terhadap nilai tukar (kurs) rupiah memang luar biasa dahsyatnya. Petinggi Bank Indonesia (BI) sampai-sampai tak bisa tidur nyenyak, demi menjaga rupiah. Tapi sayang, hasilnya belum terlihat.

“Jadi BI 24 jam, karena misal dari jam pasar Singapura buka, kita sudah buka juga. Kita tutup jam 3, Eropa masih jalan pasarnya. Jam 9 pagi AS, Amerika buka, kita melek, kita optimalkan kanwil di luar negeri di London dan New York. Tapi sambil kita jaga likuiditas,” kata Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam sebuah forum bank sentral di Jakarta, dikutip Selasa (14/4/2026).

Namun, pergerakan rupiah semakin liar, sulit dikendalikan. Saat penutupan perdagangan Selasa sore (14/4), misalnya, rupiah terkulai lemas di level Rp17.122/US$. Atau melemah 0,11 persen. Alhasil, mata uang Garuda menjadi yang terlemah di Asia.

Terhitung dalam seminggu ini, rupiah ambruk ke level psikologis baru yakni Rp17.000/US$. Padahal, indeks dolar AS mengalami pelemahan 0,16 persen, ke posisi 98,2.

Seharusnya, rupiah mengikuti mata uang Asia yang mengalami penguatan. Kuat dugaan, rupiah tersungkur lantaran tekanan domestik lebih kuat ketimbang faktor eksternal, yakni geopolitik di Timur Tengah.

Bisa jadi, permintaan terhadap mata uang Paman Sam di dalam negeri, mengalami peningkatan yang signifikan. Khususnya untuk pembayaran impor atau repatriasi dividen, yang memicu tekanan likuiditas di pasar valuta asing (valas).

Sejatinya, masih menurut Destry, BI memiliki banyak instrumen yang dipercaya menjadi “obat kuat” bagi rupiah. “Secara terukur, continue BI akan masuk di market, spot, NDF, DNDF, kita juga akan perluas basis pelaku nanti untuk NDF di luar,” kata Destry.

Namun, pergerakan rupiah tetap melemah. Masalahnya, upaya untuk membuat mata uang merah putih menguat kembali cukup mahal. Hal itu terlihat dari cadangan devisa (cadev) yang susut US$8,27 miliar hanya dalam waktu tiga bulan.

Jika diasumsikan kurs Rp16.900/US$, tergerusnya cadev sepanjang Januari hingga Maret 2026 nyaris Rp140 triliun. Atau rata-rata hampir Rp46,7 triliun per bulan, setara anggaran subsidi pupuk selama setahun.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang