Keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% berdampak kepada penguatan rupiah ke level Rp16.935 per dolar AS pada penutupan Rabu (21/1/2026). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pergerakan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS (US$) terus mengacu pada perkembangan konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan Kamis (9/4), mata uang Garuda masih terkapar di atas level psikologis Rp17.000/US$.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut rupiah mengalami pelemahan 18 poin atau setara 0,11 persen ke level Rp17.030/US$, dibandingkan penutupan kemarin yang berada di posisi Rp17.012/US$. Pelemahan ini diduga dipicu perilaku Israel yang melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Diketahui, Israel menyerang Lebanon secara bertubi-tubi.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.020-Rp17.080, dipengaruhi oleh meningkatnya kembali tekanan eksternal setelah klaim Iran terhadap pelanggaran kesepakatan gencatan senjata terkait serangan Israel ke Lebanon, sehingga memicu harga minyak naik,” ucap Rully, dikutip dari Antara, Kamis (9/4/2026).
Menurut Kantor Berita Anadolu, sebelumnya AS telah menerima proposal berisi 10 poin sebagai dasar negosiasi untuk mengakhiri perang. Salah satu poin yang tercantum adalah penghentian permusuhan di semua garis depan, termasuk di Lebanon.
Namun, Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran di kawasan Dahiyeh, selatan Beirut, Lebanon. Tentara Israel sebelumnya menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dengan total korban tewas mencapai 254 orang.
Berdasarkan laporan Sputnik, Wakil Presiden AS JD Vance pada Rabu (8/4) mengatakan penghentian permusuhan di Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta menyebut isu tersebut sebagai “kesalahpahaman”.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa penghentian konflik di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena keterlibatan kelompok Hizbullah. Trump menilai situasi di negara itu merupakan bagian dari “bentrokan terpisah”.
Dari sentimen domestik, rilis cadangan devisa yang mengalami penurunan sebesar 3,7 miliar dolar AS menjadi 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026, serta surplus perdagangan yang berada di bawah harapan pelaku pasar, tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan rupiah.
“Konsensus pasar surplus perdagangan 1,5 miliar dolar AS, tapi realisasi 1,2 miliar dolar AS,” ungkapnya.
Cadev Anjlok Demi Rupiah
Dari dalam negeri, pasar mencermati data posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada Rabu (8/4). Disebutkan bahwa cadev Maret 2026 turun menjadi 148,2 miliar dolar AS. Bulan sebelumnya mencapai 151,9 miliar dolar AS. Artinya, cadev Maret 2026 menjadi level terendah sejak Juli 2025.

Di sisi lain, risiko fiskal masih membayangi di tengah upaya pemerintah mengantisipasi fluktuasi harga minyak dunia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengisyaratkan defisit anggaran yang melebar tahun ini jika tidak dilakukan efisiensi dan penghematan.
Upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang dilakukan BI menjadi salah satu penyebab turunnya cadangan devisa. Namun, BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas rupiah melalui penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terbaru.
Asal tahu saja, penyerapan SRBI pada Maret 2026 mencapai Rp17 triliun dari total permintaan Rp22,8 triliun. Tingginya penyerapan ini didorong imbal hasil yang cukup menjanjikan. Untuk SRBI bertenor 6 bulan, imbal hasil atau yield dipatok 5,4 persen.
Sementara itu, untuk tenor 9 bulan imbal hasilnya meningkat menjadi 5,6 persen, dan tenor 12 bulan sebesar 5,7 persen.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













