Wanam dan Cerita Baru OAP di Tengah Pembangunan PSN

Ada cerita baru tentang penghidupan yang lebih pasti serta harapan masa depan di tanah sendiri dari ujung timur Indonesia. Ini bermula dari kampung terpencil di Merauke, Papua Selatan yang perlahan membuka mimpi warga lokal yang selama ini terpinggirkan.

Pagi itu, deru mesin alat berat memecah kesunyian suasana dermaga yang berada di Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Tanda dimulainya kembali pengerjaan Dermaga Jetty Multipurpose, bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN).

Tanah yang dahulu dipenuhi belukar hutan rimba, kini tengah disulap menjadi pusat cadangan pangan nasional, melalui program cetak sawah seluas 1 juta hektare.

Momen bersejarah terjadi saat panen perdana padi di lahan cetak sawah demplot di Kampung Wanam, Jumat (16/5/2025). Ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pembuktian lahan Wanam sangat cocok untuk pertanian.

Nama Wanam memang masih terlalu asing di telinga publik, karena lokasinya yang cukup jauh yakni di ujung timur Indonesia. Namun ke depannya, Wanam akan menjadi sebuah kebanggaan bangsa lewat PSN.

Transformasi Wanam berjalan bertahap, seiring didatangkannya ratusan alat berat serta sarana pendukung lainnya. Salah satu ikon yang nampak dari kejauhan yakni sebuah Genma Harbour Crane, rangka baja setinggi 60 meter bertengger di bibir pelabuhan.

Buka Lapangan Kerja

Ratusan tenaga kerja profesional pun didatangkan, tak terkecuali pekerja yang berasal dari warga lokal, biasa disebut OAP atau Orang Asli Papua. Penduduk asli tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut bekerja dan mendapat upah.

Dalam proyek ini, keterlibatan masyarakat lokal memang menjadi perhatian. Tim Project Wanam, Gawang Kurniawan memastikan adanya sinergi dengan warga setempat.

“Untuk pekerja lokal kami pasti ada, karena kita tahu harus bersinergi dengan masyarakat yang ada, kita harus memakai atau melibatkan masyarakat-masyarakat tersebut, dari marga-marga yang ada,” ujar Gawang kepada Inilah.com.

Meski tidak memiliki data jumlah pekerja secara keseluruhan, namun dirinya mengaku pembangunan PSN ini tak lepas dari bantuan OAP.

Jika sebelumnya OAP, berprofesi sebagai pelaut atau pencari ikan, kini mereka sudah berseragam proyek, dilengkapi dengan peralatan safety atau alat pelindung diri (APD) seperti helm proyek, rompi, hingga sepatu bot.

Senangnya Terima Gaji Bulanan

Wajah semringah diperlihatkan oleh OAP bernama Dami Faya (38), salah seorang operator speed boat di kawasan PSN Wanam, Merauke. Ayah tiga anak ini mengaku sudah sejak awal ikut membantu percepatan pembangunan PSN.

“Dulu melaut, sesudah itu dibayar. Hasil tidak seberapa, tapi harus dicukupi untuk keluarga,” katanya saat berbincang dengan Inilah.com.

PSN wanam
Aktivitas pekerja di proyek Dermaga Jetty Wanam yang disiapkan untuk mendukung distribusi alat berat food estate. (Foto: Inilah.com).

Sebelumnya ia bekerja di sebuah kapal pencari ikan dan mengaku sulit untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hingga akhirnya pria berdarah Asmat ini bergabung di PT Dua Samudera Perkasa (DSP), salah satu anak usaha Jhonlin Group.

“Sekarang setiap bulan terima (gaji),” ucapnya seraya melontarkan senyum.

Pekerja lokal lainnya, Elly Kahol (42) juga mengungkapkan hal senada, yakni betapa senangnya menerima gaji bulanan. Dengan mengenakan helm proyek warna kuning, rompi, dan sepatu bot, ia menceritakan pekerjaan sebelumnya.

Sebelum bekerja di PSN yang dilengkap dengan alat pelindung diri (APD), hidupnya lekat dengan laut. Ya, dirinya adalah nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan yang tak selalu pasti.

“Dari pada saya di laut, kalau di laut itu saya pusing juga. Kalau di sini saya rasa (perekonomiannya) bagus sekarang, terbantukan,” ucapnya kepada Inilah.com.

Selama bekerja, ayah lima anak itu tinggal di kamp pekerja yang disediakan di lokasi proyek. Sesekali dirinya pulang ke rumahnya di Kampung Wanam, setiap pekan atau tergantung kondisi pekerjaan.

Jika pulang, ia harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam dengan berjalan kaki. Perjalanannya itu tidak mudah, ia harus melewati hutan dengan kondisi tanah berlumpur terutama saat musim hujan.

Penduduk asli Wanam ini mengaku telah ikut bekerja di PSN sejak awal pembangunan dimulai. Bahkan tak sedikit warga lokal lainnya ikut bekerja di lokasi yang sama.

Kebanyakan dari mereka adalah pekerja pendukung atau helper yang bertugas membantu menyelesaikan tugas teknis maupun non-teknis di lapangan. Ini membuktikan adanya dukungan dari warga lokal untuk terlaksananya pembangunan PSN di Wanam.

Berburu Buaya

Elly mengakui kehidupan di Kampung Wanam mayoritas mencari nafkah di laut yang kerap dihantui rasa kekhawatiran soal penghasilan. Ditambah lagi dengan kondisi cuaca serta tingginya ombak.

Jika sedang tidak melaut, dirinya bersama warga lain kerap mencari tambahan penghasilan dengan berburu rusa di kawasan hutan Wanam yang hingga kini masih terjaga.

Perburuan dilakukan secara tradisional dengan cara dipanah, kemudian dipotong dan dagingnya dijual. Daging rusa memang menjadi santapan khas bagi para pendatang di Kabupaten Merauke.

Selain berburu rusa, ada lagi yang lebih ekstrem yang dilakukan warga lokal, yakni berburu buaya di sekitar muara. Kawasan Kampung Wanam merupakan dikelilingi muara yang menghubungkan ke Selat Mariana.

PSN wanam
Muara yang menghubungkan kawasan PSN dengan permukiman warga Kampung Wanam, Merauke, Papua Selatan, (Foto: Inilah.com)

Elly Kahol, mengaku berburu buaya sudah menjadi hal yang biasa dilakukan. Tak perlu menggunakan jaring atau jebakan, dirinya hanya berbekal parang sepanjang 60 sentimeter.

“Ada musimnya, nanti kalau musim panas dia (buaya) keluar dari air (mengambang). Langsung kita tebas,” ujarnya.

Setelah itu, buaya tersebut dikuliti untuk selanjutnya dijual ke kota seharga Rp35 ribu, tergantung besar-kecilnya. Sedangkan dagingnya ada yang dikonsumsi, ada juga yang dibuang.

Berdasarkan cerita turun temurun yang didapat, buaya merupakan moyang dari marga Kahol yang sejak dahulu berburu buaya. Karena itu tidak ada marga Kahol yang takut dengan buaya.

“Kahol itu buaya, yang ada buaya takut kita,” tambahnya.

Suasana Kampung Wanam

Kampung Wanam tergolong sangat terpencil, yang mayoritas rumahnya berbahan kayu/papan. Perjalanan menuju Kampung Wanam bisa ditempuh menggunakan perahu motor sekitar 25 menit dari kawasan PSN.

Area permukiman penduduk berjarak kurang lebih 3 kilometer dari dermaga kecil, yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sejatinya, untuk menuju kampung ini bisa menggunakan sepeda motor trail karena medannya yang terjal. Namun jika curah hujan tinggi, kendaraan tidak bisa dilalui karena jalan tanah berubah menjadi lumpur tebal.

Di kampung ini terdapat sebuah gereja yang baru saja diperbaiki, berdampingan dengan gereja lama. Sedangkan untuk sarana pendidikan sangatlah minim, yakni hanya ada satu Sekolah Dasar (SD).

Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke SMP, maka harus menggunakan perahu motor selama 30 menit ke Kampung Wogikel. Sedangkan untuk SMA, siswa harus menempuh perjalanan lebih jauh lagi, yakni di Kota Merauke.

Belum adanya aliran listrik, membuat suasana kampung terlihat sangat tertinggal. Meski sebelumnya pemerintah telah menyediakan solar panel, namun saat ini kondisinya telah rusak.

PSN sebagai Harapan

Kepala Kampung Wanam, Kosmas Serilius mengaku sangat berharap keberadaan PSN Wanam terus memberikan manfaat bagi warga. Bukan hanya dari penyerapan tenaga kerja lokal, tapi juga sarana pembangunan di wilayah Wanam.

“(Warga lokal kerja di PSN) Banyak. Kami di sini 743 (jiwa), mungkin ke depan kita pemuda juga banyak yang masuk kerja di sana (PSN),” ungkapnya.

Harapan yang sama juga disampaikan anggota Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kleapos, yang mengakui kampungnya masih tertinggal dan membutuhkan perhatian.

Salah satu yang diharapkan menjadi prioritas yakni pembangunan infrastruktur jalan. Karena itu warga mendukung PSN yang saat ini tengah membangun akses jalan sejauh 135 kilometer dari PSN Wanam-Kota Merauke.

PSN wanam
Jalan akses sepanjang puluhan kilometer membelah kawasan rawa dan lahan pertanian di Wanam, Distrik Ilwayab, Merauke, Papua Selatan, sebagai bagian dari percepatan pengembangan food estate nasional untuk mendukung swasembada pangan Indonesia, Senin (2/2/2026). (Foto: Inilah.com/Bagas)

Jika akses itu sudah tersambung, dirinya meyakini pembangunan infrastruktur jalan akan menular ke Kampung Wanam. Hal itu untuk memudahkan akses mereka menjual hasil alam hingga akses anak-anak untuk sekolah.

“Kalau dari masyarakat dukung untuk program pembangunan jalan di Kampung Wanam,” ucapnya.

Keberadaan PSN di Wanam, ia berharap dampaknya juga dapat menyentuh kebutuhan dasar warga lokal. “Iya berharap juga ada (pembangunan lebih baik) di Kampung Wanam,” tandasnya

(M. Syahidan)