Foto arsip tanpa tanggal ini menunjukkan dua makam di Situs Changchun di Kabupaten Fuping, Kota Weinan, Provinsi Shaanxi, China. (Foto: Antara/Xinhua/Shaanxi Academy of Archaeology)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tabir sejarah di wilayah barat laut China kembali tersingkap. Tim arkeolog berhasil menemukan sebuah kompleks pemakaman kuno berusia sekitar 3.000 tahun di Provinsi Shaanxi. Penemuan ini diyakini sebagai kunci penting untuk memahami struktur sosial dan peta politik pada masa silam.
Klaster yang terdiri dari 31 makam ini merupakan bagian dari Reruntuhan Changchun di wilayah Fuping, Kota Weinan. Mengutip Xinhua, penggalian intensif telah dilakukan sejak Agustus 2022 oleh Institut Arkeologi Provinsi Shaanxi (SPIA) bekerja sama dengan Museum Weinan dan otoritas kebudayaan setempat.
Hierarki di Balik Liang Lahat
Penemuan ini tidak hanya sekadar tumpukan tulang belulang. Para peneliti menemukan adanya klasifikasi hierarki yang cukup kontras dari struktur makam yang ada.
Associate Researcher SPIA, Li Yanfeng, menjelaskan bahwa puluhan makam tersebut terbagi dalam empat kategori. Makam bernomor M1 dan M2 menjadi yang paling menonjol karena memiliki tiga lapis peti mati, yang mengindikasikan pemiliknya memiliki status sosial tinggi.
“Pemilik makam M2 adalah seorang laki-laki yang diduga kuat merupakan penguasa pemukiman tersebut, sementara di M1 adalah istrinya,” ujar Li, Selasa (6/1/2026).
Kontras dengan kemewahan tersebut, makam-makam yang lebih kecil hanya menggunakan satu peti mati tanpa benda perunggu. Di sana, arkeolog hanya menemukan wadah tembikar dan ornamen cangkang kerang, yang merujuk pada liang lahat rakyat biasa.
Harta Karun Giok dan Kereta Kuda
Selain makam manusia, tim juga menemukan lima lubang berisi sisa-sisa kereta (chariot) dan kuda. Tak kurang dari 300 artefak berharga berhasil diangkat dari perut bumi, mulai dari perlengkapan berbahan tembaga, batu lak, hingga giok.
Beberapa benda yang mencuri perhatian karena keindahannya adalah liontin giok bermotif manusia dan naga, tombak giok, serta lonceng batu. Melalui uji karbon-14 terhadap tulang manusia dan analisis tipologi tembikar, tim menyimpulkan peninggalan ini berasal dari periode pertengahan hingga akhir Dinasti Zhou Barat (1046 SM-771 SM).
Sistem Pemakaman yang Tertata
Meskipun terdapat perbedaan kasta yang mencolok, letak makam-makam ini tersebar secara rapi. Hal ini mencerminkan adanya karakteristik ‘pemakaman keluarga’ serta sistem pemakaman umum yang terpusat dan terorganisir pada masa itu.
Sayangnya, hingga saat ini belum ditemukan prasasti pada artefak yang digali, sehingga identitas spesifik kelompok masyarakat ini masih menjadi misteri. Namun, temuan ini sudah cukup memberikan material fisik yang sangat berharga bagi kajian sejarah politik dan kemasyarakatan Dinasti Zhou Barat di wilayah tersebut.














