Inilah Teknologi yang Hilang di 2025, Dari Tombol Home iPhone hingga Skype

Ibnu Medium.jpeg

Rabu, 31 Desember 2025 – 12:31 WIB

lenyapnya tombol Home iPhone di 2025. (Foto: Cnet)

lenyapnya tombol Home iPhone di 2025. (Foto: Cnet)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tahun 2025 boleh dibilang relatif tenang dari sisi “kematian” produk teknologi besar. Namun bagi pengamat lama industri, ada sejumlah peristiwa yang terasa seperti penutup sebuah bab penting. Bukan sekadar produk dihentikan, melainkan simbol perubahan arah industri—dari nostalgia ke efisiensi, dari konsumen ke pusat data, dari perangkat fisik ke layanan terpadu.

Salah satu momen paling emosional adalah lenyapnya tombol Home iPhone. Dengan berakhirnya iPhone SE dan hadirnya iPhone 16E, Apple resmi mengubur antarmuka ikonik yang menemani pengguna lebih dari satu dekade. Tombol Home bukan cuma fitur; ia adalah bahasa interaksi. Hilangnya menandai konsistensi Apple mendorong navigasi berbasis gestur—lebih modern, namun tak selalu ramah bagi semua orang.

Di sisi konektivitas, AOL akhirnya mematikan layanan dial-up internet pada September 2025. Bagi generasi awal internet, suara modem adalah memori kolektif. Penutupan ini menutup 34 tahun sejarah dan, ironisnya, menyisakan tantangan akses bagi sebagian wilayah rural yang masih bergantung pada layanan tersebut.

Tak semua perpisahan datang dari nostalgia. Humane AI Pin adalah contoh ambisi yang tumbang cepat. Perangkat wearable berbasis suara ini hanya bertahan sekitar setahun. Meski HP mengakuisisi talenta dan portofolio patennya, peluang kebangkitan perangkat kerasnya dinilai kecil—sebuah pengingat bahwa “AI-first gadget” tanpa kegunaan luas sulit bertahan.

Di ranah sistem operasi, Microsoft mengubah wajah kegagalan paling terkenal: Blue Screen of Death. Mulai rilis Windows Oktober 2025, layar biru diganti hitam. Lebih tenang, mungkin. Tapi juga mengakhiri ikon visual yang selama puluhan tahun identik dengan crash.

Perubahan struktural juga terlihat pada pasar aplikasi. Amazon menutup Android Appstore untuk umum dan memfokuskannya ke perangkat Fire. Strategi ini menegaskan orientasi ekosistem tertutup dan margin—mengorbankan ambisi menjadi alternatif toko aplikasi Android yang lebih luas.

Sementara itu, Skype—pelopor VoIP yang pernah mengubah cara dunia menelepon—resmi dilebur ke Microsoft Teams versi gratis. Keputusan ini mencerminkan konsolidasi layanan komunikasi ke platform kolaborasi terpadu, meski mengorbankan identitas aplikasi veteran.

Di rumah pintar, Google “menurunkan kecerdasan” dua generasi awal Nest Learning Thermostat dengan mengakhiri dukungan aplikasi. Perangkat kerasnya masih berfungsi, tetapi kehilangan fitur utama—contoh nyata planned obsolescence di era IoT.

Terakhir, Google menghentikan firmware konversi controller Stadia ke Bluetooth. Bagi yang belum memperbarui, perangkat itu kini menjadi koleksi mati—penutup sisa ekosistem Stadia yang runtuh sejak 2022.

Daftar ini menunjukkan satu benang merah: industri bergerak ke efisiensi, skala, dan AI. Yang tertinggal bukan selalu teknologi buruk, melainkan teknologi yang tak lagi sejalan dengan arah bisnis. Tahun 2025 mengajarkan bahwa dalam teknologi, yang abadi bukanlah perangkat—melainkan perubahan itu sendiri.