Pakar ekonomi dari Universitas Andalas Sumatera Barat (Sumbar), Prof Syafruddin Karimi. (Foto: Antara/HO-Pribadi).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pakar ekonom dari Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi mengungkapkan, permintaan akses mineral kritis dari Amerika Serikat (AS) menyimpan risiko bagi agenda hilirisasi Indonesia. Harus diimbangi kebijakan yang tegas.
Dia menilai, kerja sama tersebut tidak boleh dimaknai sebagai pembukaan keran ekspor komoditas mentah. “Ini bisa menggerus agenda hilirisasi jika pemerintah tidak memasang pagar kebijakan yang tegas,” ujar Syafruddin kepada inilah.com, Jakarta, Rabu (24/12/2025).
Selain itu, terdapat risiko ketidakseimbangan konsesi dalam kesepakatan tersebut. Indonesia dinilai berpotensi menanggung beban reformasi hambatan non-tarif, penyesuaian aturan digital, hingga isu keamanan ekonomi yang kompleks.
Sementara itu, lanjutnya, manfaat penurunan tarif justru bisa terkonsentrasi kepada beberapa komoditas dan perusahaan besar saja. “Karena itu, pemerintah perlu mengikat akses mineral kritis pada paket value capture yang jelas. Syarat investasi pengolahan di dalam negeri, transfer teknologi, kontrak jangka panjang dengan standar ESG,” kata dia.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pengembangan industri baterai, baja hijau, hingga ekosistem manufaktur lanjutan tetap berada di dalam negeri.
Dia menegaskan, Indonesia baru akan memperoleh manfaat maksimal jika kesepakatan mineral kritis benar-benar memperkuat posisi ekspor sekaligus mempercepat industrialisasi yang bernilai tambah.
“Bukan justru mempercepat arus bahan mentah keluar negeri,” tegas dia.
Informasi saja, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan pejabat United States Trade Representative (USTR) Duta Besar Jamieson Greer, guna negosiasi lanjutan tarif resiprokal AS.
Hasilnya, Menko Airlangga mengatakan, Indonesia tetap dikenakan tarif resiprokal 19 persen, atau turun dari sebelumnya yang dipatok pemerintah AS sebesar 32 persen. Namun, AS meminta timbal balik pembukaan akses untuk membangun tambang mineral kritis RI.
“Amerika sangat berharap untuk mendapatkan akses terhadap kritikal mineral,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Perkembangan Kesepakatan Dagang Indonesia-AS melalui daring, Selasa (23/12/2025).
Sebagai gantinya, Indonesia mendapatkan pengecualian tarif khusus untuk sejumlah produk unggulan ekspor seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan komoditas lainnya yakni teh.
“Dan tentu ini menjadi kabar yang baik terutama bagi industri Indonesia yang terdampak langsung kebijakan tarif di mana sektor-sektor yang terkenal tarif tersebut, terutama padat karya, memperkerjakan 5 juta pekerja dan tentunya ini sangat strategis bagi Indonesia,” jelas dia.












