Inovasi Telkom Akses, TACC Mampu Prediksi Gangguan dan Beri Solusi Sebelum Pelanggan Terdampak

Reza Medium.jpeg

Jumat, 12 Desember 2025 – 11:11 WIB

Telkom Akses Command Center (TACC), ruang kendali digital yang memantau kesehatan jaringan fiber di seluruh Indonesia. (Foto: Dok. Telkom Akses).

Telkom Akses Command Center (TACC), ruang kendali digital yang memantau kesehatan jaringan fiber di seluruh Indonesia. (Foto: Dok. Telkom Akses).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kebutuhan internet cepat dan stabil terus meningkat, Telkom Akses menghadirkan fasilitas pusat kendali digital yang kini menjadi tumpuan operasional mereka, Telkom Akses Command Center (TACC).

Ruang kendali ini dirancang untuk memantau kondisi jaringan fiber secara nasional dan membaca potensi gangguan lebih awal, sehingga perbaikan bisa dilakukan sebelum pelanggan merasakannya.

TACC menghimpun data real-time dari seluruh perangkat jaringan dan mengolahnya menggunakan analitik otomatis serta pemetaan GIS (Geographic Information System). Kehadiran sistem ini mengubah pola penanganan gangguan yang sebelumnya bergantung pada laporan pelanggan.

“TACC tidak hanya memantau, tetapi mampu memprediksi gangguan sebelum terjadi. Ini membuat penanganan gangguan jauh lebih cepat karena tim teknis bisa langsung bergerak bahkan sebelum pelanggan melapor,” tegas Direktur Operation Telkom Akses, Ambari, di Jakarta, dikutip Jumat (12/12/2025).

Salah satu fungsi penting di dalamnya adalah Proaktif Gamas, sistem yang memungkinkan deteksi gangguan massal secara otomatis. Ketika muncul anomali seperti putusnya kabel fiber, padamnya ONT, atau kerusakan feeder akibat cuaca ekstrem maupun aktivitas pihak ketiga, sistem langsung menandai lokasi terdampak dan mengirimkan notifikasi kepada teknisi di lapangan.

“Begitu ada kabel putus, sistem langsung mengidentifikasi lokasi ODP dan ONT yang terdampak. Alert otomatis terkirim ke teknisi terdekat,” kata Ambari.

Selain pengawasan jaringan, TACC juga memuat tiga fungsi operasional lain yang saling terhubung. Pertama, Active Network Enabler yang menangani pemulihan jarak jauh serta otomatisasi proses. Kedua, GIS-Based Plant Record untuk memastikan data infrastruktur fiber selalu terbarui. Ketiga, layanan Order Management yang mengatur bantuan teknis, pengendalian pekerjaan, hingga pelaporan kinerja secara berkesinambungan.

Telkom Akses juga memperbaiki sisi internal, khususnya pengelolaan teknisi dan material. Ambari menyebut kualitas SDM menjadi perhatian utama, disertai pelatihan dan sertifikasi yang lebih terukur. Pada saat yang sama, pemantauan material dan alat kerja kini digerakkan melalui sistem digital agar lebih presisi dan meminimalkan selisih data.

Pelaksanaan operasional sehari-hari di bawah Direktorat Operation kini ditopang oleh Workforce Management (WFM) yang sepenuhnya dikelola Telkom Akses. Seluruh kebutuhan teknisi, mulai dari absensi, penerimaan order, hingga quality control, tersedia dalam aplikasi Lensa. Dan bisa dipantau melalui aplikasi Lensa Flow secara realtime.

“Dulu pengelolaan teknisi dilakukan oleh Telkom. Sekarang seluruh manajemen teknisi—dari absensi, manajemen order hingga quality control yang dikelola sendiri oleh Telkom Akses. Telkom hanya mengirimkan order,” ujar Ambari.

Dengan sistem yang lebih terpusat dan berbasis data, perusahaan menargetkan proses perbaikan gangguan yang lebih cepat dan terkendali.

“Tujuan akhirnya sederhana, layanan harus semakin cepat, presisi, dan berkualitas. Transformasi operasional ini adalah fondasinya,” tutup Ambari.
 

Topik
Komentar