Aktivis media sosial Ferry Irwandi. (Foto: Youtube/Ferry Irwandi)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Konten kreator dan aktivis Ferry Irwandi angkat bicara setelah dirinya menjadi sorotan tajam terkait isu dugaan pelecehan seksual di lokasi bencana Sumatera. Ferry mengaku telah menjadi korban fitnah yang dilakukan secara serentak dengan narasi yang seragam.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ferry menepis tuduhan bahwa dirinya mempolitisasi bencana atau menyebarkan ketakutan tanpa verifikasi.
Ferry mengungkapkan kekecewaannya terhadap gelombang pemberitaan yang menyudutkannya hari ini.
“Hari ini serentak saya difitnah oleh banyak orang dengan narasi yang sama… Selama ini saya gak peduli, tapi untuk yang ini sudah keterlaluan,” tulis Ferry dalam klarifikasinya, Senin (08/12).
Ia meluruskan dua poin utama:
- Tidak Menuduh Pemerintah: Ferry menegaskan tidak pernah mengatakan bahwa pemerintah tutup mata terhadap bencana ini.
- Asal Muasal Isu: Isu sensitif tersebut (pelecehan/kasus horor) bukan berasal dari konten khusus yang ia buat. Hal itu muncul spontan dalam sesi live streaming penggalangan dana seminggu lalu, bersumber dari penelepon yang menceritakan situasi lapangan.
“Sama sekali tidak pernah dinarasikan seperti yang tertulis di media. Teman-teman media yang menulis berita ini, mohon klarifikasi dan verifikasinya,” pinta Ferry.
Ia juga menegaskan bahwa situasi di lapangan justru kondusif, di mana relawan, NGO, Pemerintah Pusat, Pemda, TNI, dan Polri saling berkolaborasi dengan baik.
Sebelumnya, di beberapa media yang sudah menayankan narasi Ferry tersebut menuai kecaman keras dari sejumlah pihak. Pakar Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Syurya Muhammad Nur, menilai Ferry telah melanggar etika komunikasi publik.
“Penyampaian isu pelecehan seksual di lokasi bencana yang disebarkan lewat konten oleh Ferry ini tanpa verifikasi memadai dan berpotensi melukai psikologis korban,” kata Syurya, Senin (8/12/2025). Menurutnya, ruang publik saat bencana harusnya diisi edukasi dan empati, bukan eksploitasi isu sensitif.
Senada dengan Syurya, Direktur Eksekutif Veritas Institut, Aldi Tahir, juga memberikan peringatan keras. Ia menilai informasi yang tidak terkonfirmasi dapat menimbulkan trauma baru (reviktimisasi).
“Isu pelecehan seksual adalah persoalan serius… Jika disampaikan tanpa data resmi dan verifikasi yang jelas, narasi seperti itu sangat berisiko melukai korban untuk kedua kalinya,” ujar Aldi, Minggu (7/12/2025).
Kini, Ferry Irwandi meminta agar berita-berita yang memuat tuduhan tersebut diturunkan atau diklarifikasi demi menjaga fokus penanganan bencana yang sedang berlangsung.














