Laba Bersih Singapore Airlines Anjlok 82 Persen di Q2-2025 Akibat Kerugian Air India

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 20 November 2025 – 04:05 WIB

Laba bersih Singapore Airlines terjun bebas 82 persen di kuartal II-2025, jauh di bawah proyeksi analis. (Foto: Unsplash)

Laba bersih Singapore Airlines terjun bebas 82 persen di kuartal II-2025, jauh di bawah proyeksi analis. (Foto: Unsplash)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Salah satu maskapai penerbangan terbaik dunia, Singapore Airlines (SIA), melaporkan kinerja yang sangat mengecewakan di kuartal kedua (Q2) 2025. Laba bersih maskapai tersebut anjlok tajam hingga 82 persen, jauh di bawah ekspektasi para analis pasar. Pemicu utama jebloknya laba ini terarah langsung ke tragedi yang menimpa maskapai India, Air India, yang mengalami kecelakaan fatal pada Juni lalu.

Laba bersih SIA hanya tercatat sebesar 52 juta dolar Singapura (sekitar Rp668,8 miliar). Angka ini bak bumi dan langit dibandingkan estimasi analis yang menargetkan laba di angka 181,47 juta dolar Singapura.

Dalam laporan yang dikutip dari CNBC International, kerugian Air India menjadi penghambat kinerja SIA Group secara keseluruhan. Air India diketahui menjadi beban operasional setelah kecelakaan tragis yang menewaskan 241 penumpang pada Juni 2025. Kerugian ini secara dominan disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga yang signifikan.

“Meskipun menghadapi tantangan yang berkelanjutan, SIA Group tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan mitranya Tata Sons guna mendukung program transformasi multi-tahun Air India yang komprehensif,” tegas pihak maskapai dalam pernyataan resmi.

Dampak Merger dan Panggilan Bantuan Keuangan

Perlu diketahui, SIA memiliki kepemilikan saham sebesar 25,1 persen di Air India. Kepemilikan ini diperoleh setelah merger Air India dengan Vistara, maskapai yang juga dimiliki bersama oleh SIA dan Tata Sons, pada November 2024. Artinya, setiap kerugian yang dialami Air India otomatis berdampak proporsional pada buku keuangan SIA.

Tak hanya merugi, Air India pasca-kecelakaan bahkan meminta bantuan keuangan setidaknya 100 miliar rupee dari SIA dan Tata Sons. Dana segar ini dibutuhkan untuk pemulihan, khususnya peningkatan sistem dan kemampuan rekayasa serta pemeliharaan internal.

Kerugian Air India ini memperburuk kondisi SIA. Laba bersih SIA untuk keseluruhan semester I-2025 pun tergerus 67,8 persen dari tahun sebelumnya, menjadi hanya 239 juta dolar Singapura. Pendapatan bunga SIA sendiri pada Q2 juga turun sebesar 42 juta dolar Singapura, imbas pemotongan suku bunga dan berkurangnya saldo kas akibat pembayaran dividen dan pelunasan pinjaman.

Strategi Mitigasi dan Tantangan Geopolitik

Meskipun dihantam kerugian, SIA tidak tinggal diam. Perusahaan segera memperluas kemitraan komersialnya sebagai strategi mitigasi risiko. Pada September, SIA meluncurkan layanan codeshare baru dengan Vietnam Airlines, memperkuat posisi mereka di rute-rute Asia Tenggara yang dianggap tangguh.

Satu bulan kemudian, di Oktober, maskapai ini memperluas usaha patungannya dengan Lufthansa Group dan Brussels Airlines, yang bertujuan meningkatkan konektivitas antara Eropa dan kawasan Asia-Pasifik.

SIA memang optimistis bahwa permintaan perjalanan udara tetap kuat, khususnya menjelang kuartal ketiga. Namun, perusahaan juga memperingatkan adanya tantangan besar yang mengintai.

Di tengah ketidakpastian tren kargo udara dan gejolak ekonomi global, industri penerbangan secara luas masih harus menghadapi tekanan dari ketegangan geopolitik, hambatan ekonomi makro, tekanan biaya inflasi, hingga kendala rantai pasokan global.

Kinerja SIA di kuartal mendatang akan sangat bergantung pada seberapa cepat Air India bangkit dari tragedi dan apakah pasar kargo dapat pulih.

Topik
Komentar