Tak Lagi Canggung, Nonton Konser Sendirian Jadi Gaya Hidup Baru Anak Kota

Reyhaanah Medium.jpeg

Minggu, 16 November 2025 – 16:04 WIB

Grup Band Barasuara di acara pembukaan Jakarta International Literacy Festival, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (13/11/2025). (Dokumentasi; Inilah.com/ Reyhaanah).

Grup Band Barasuara di acara pembukaan Jakarta International Literacy Festival, TIM, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (13/11/2025). (Dokumentasi; Inilah.com/ Reyhaanah).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Lampu panggung di Plaza Teater Taman Ismail Marzuki mulai menari. Lapangan perlahan dipenuhi penonton yang datang berbondong-bondong, bak semut mencari makan.

Di tengah kerumunan itu, seorang pria berdiri sendirian, tanpa teman di kanan dan kirinya, Dia terlihat tidak menunggu seseorang. Ia hanya fokus pada tujuan utamanya, menonton grup band favoritnya, Barasuara, sejak remaja, momen yang sudah ia tunggu lama.

Fenomena pergi sendirian seperti nonton konser, makan di restoran, nonton film, hingga traveling, kini makin umum terlihat. Apa yang dulu dianggap canggung kini berubah menjadi pilihan sadar yang lahir dari kebutuhan akan kemandirian dan kenyamanan.

Arya (29), pekerja kreatif di Jakarta, termasuk yang dulu merasa ragu saat harus nonton konser sendirian. Temannya batal datang, namun ia sudah terlanjur menyiapkan mental dan pakaian terbaik.

“Awalnya sih takut banget. Takut dilihatin, takut aneh. Tapi setelah masuk venue, rasa takut itu hilang. Jadi kayak bisa pilih tempat yang aku mau dan pulang kapan pun. Rasanya malah lebih bebas,” katanya kepada inilah.com. sambil mengambil spot tempat berdiri terbaik, di Cikini, Jakarta, ditulis Minggu (16/11/2025). 

Suasana di TIM malam itu memperlihatkan pola serupa. Di beberapa sudut, tampak penonton yang sibuk merekam sendiri, atau sekadar menikmati musik tanpa banyak bicara dengan siapa pun. Pemandangan ini memberi gambaran, aktivitas solo kini bukan pengecualian, tetapi mulai menjadi wajah baru penonton konser kota besar.

Bagi banyak anak muda, sendirian bukanlah tanda kesepian, tapi bentuk self-care. Di tengah tuntutan kerja, kehidupan kota yang padat, dan interaksi digital tanpa henti, ruang personal menjadi kebutuhan yang semakin penting.

Apa yang dilakukan Arya ternyata bukan kasus individu. Di media sosial, konten bertema #MeTime, #SoloConcert, beberapa kali muncul dan ramai. Video orang datang ke konser sendiri, makan sendiri, atau duduk di bioskop tanpa teman mendapat jutaan tayangan.

Fenomena ini menandai perubahan budaya, generasi muda makin nyaman merayakan hidup dengan ritmenya sendiri. Artinya, apa yang dulu dianggap canggung kini berubah menjadi kebiasaan baru yang dirayakan banyak orang.

Urban lifestyle juga punya peran. Hidup di kota berarti jadwal padat, mobilitas tinggi, dan kadang sulit mencari waktu yang cocok dengan orang lain. Pergi sendiri menjadi solusi praktis.

“Sekarang tuh ke mana sendirian udah enggak jadi masalah, justru jadi tren. Ibarat kasih tantangan ke diri sendiri gitu. Kita jadi lebih kenal diri kita. Kalau sendiri tuh malah sering tiba-tiba kenalan sama orang di sebelah,” ucap Arya.

Bagi banyak orang, pergi sendirian justru membuka kesempatan baru. Mereka bisa berinteraksi spontan dengan orang di sebelahnya, bisa lebih menikmati suasana, atau justru merasa lebih jujur terhadap perasaan sendiri. Tidak ada tekanan untuk tampil atau bersikap tertentu.

Zahra (24) mahasiswi tingkat akhir mengaku ketagihan setelah pengalaman pertamanya, mencoba pergi sendirian menonton konser Kpop di GBK, Senayan, beberapa waktu lalu. Ia bahkan mulai merencanakan konser dan perjalanan solo berikutnya.

“Kalau nonton grup band Korea justru lebih banyak yang berangkat sendirian. Jadi bertemannya tuh ya sama orang yang baru kita temui di konser itu. Dan ternyata aku suka dan menikmati dunia ketika aku sendirian,” ucap Zahra.

Fenomena ini menunjukkan cara menikmati hidup berubah. Kebahagiaan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak teman yang diajak, tapi seberapa dekat seseorang dengan dirinya sendiri. Di tengah keramaian yang bising, memilih datang sendirian bisa menjadi bentuk merayakan kebebasan, sebuah ruang kecil untuk hadir sepenuhnya, hanya untuk diri sendiri.

Topik
Komentar