Candi Borobudur, mahakarya arsitektur Buddha yang selama ini identik dengan keagungan budaya dan ziarah spiritual, kini sedang bertransformasi menjadi ruang yang lebih dinamis. Dalam sebuah langkah strategis yang menggarisbawahi upaya optimalisasi destinasi, InJourney Destination Management (IDM) mengumumkan komitmen serius untuk menggarap sektor sport tourism, sekaligus meningkatkan aksesibilitas kunjungan.
Perubahan peran Borobudur ini menandakan pergeseran paradigma dari sekadar konservasi pasif menjadi manajemen destinasi yang aktif dan holistik. Tujuannya jelas: menarik segmen pengunjung baru, terutama dari kalangan pecinta aktivitas fisik, tanpa mengorbankan nilai-nilai luhur cagar budaya.
Direktur Komersial IDM Gitang Richard Panutur menegaskan, Borobudur telah mulai menggairahkan atmosfer olahraga. Saat berbicara dalam sesi pemanasan menjelang Borobudur Marathon 2025, ia menyebut antusiasme di kawasan tersebut sudah tinggi.
“Kami mencatat sudah ada seratus pelari dan seratus peserta yoga yang siap menyambut rangkaian kegiatan maraton tahun depan,” ujar Gitang.
Angka ini menjadi indikasi kuat bahwa Borobudur memiliki potensi besar sebagai latar belakang ikonik bagi kegiatan fisik berskala besar.
Rute Lari 3 Km dan Janji Pagi yang Syahdu
Langkah nyata IDM adalah penyediaan fasilitas yang mendukung aktivitas sport tourism. Kawasan Borobudur kini didesain untuk menyediakan akses bagi wisatawan yang ingin melakukan aktivitas lari pagi sambil menikmati kemegahan candi terbesar di dunia itu.
Para pelari kini dapat memanfaatkan rute sepanjang 3 kilometer di sekitar kompleks candi. Rute ini ideal, tidak hanya untuk pemanasan atau jogging ringan, tetapi juga untuk menikmati suasana pagi yang syahdu dan menenangkan di Magelang. Pengalaman ini diposisikan sebagai nilai tambah unik, memadukan kesehatan fisik dengan ketenangan spiritual dan visual.
Gitang menambahkan bahwa IDM akan proaktif menggandeng berbagai komunitas olahraga, baik tingkat lokal maupun nasional, untuk menjadikan Borobudur sebagai ‘lapangan terbuka’ yang ramah bagi segala bentuk aktivitas fisik.
Kemitraan ini diharapkan dapat menciptakan kalender acara olahraga yang padat dan berkelanjutan, sehingga Borobudur tidak hanya ramai pada musim liburan, tetapi juga sepanjang tahun.
Lonjakan Kuota dan Daya Tarik Sunrise Experience
Transformasi Borobudur tidak berhenti pada sektor olahraga. IDM juga melakukan penyesuaian signifikan pada kebijakan kunjungan budaya. Sejalan dengan tingginya minat masyarakat dan peningkatan optimalisasi pengaturan kunjungan, kuota naik candi ditingkatkan secara drastis dari 1.200 menjadi 4.000 pengunjung per hari.
Peningkatan kuota ini menunjukkan optimisme manajemen terhadap kemampuan Borobudur mengelola volume kunjungan yang lebih besar dengan tetap memprioritaskan konservasi struktur candi. Pengaturan kunjungan yang lebih efisien, termasuk sistem pemandu dan pembatasan zona, menjadi kunci dari kebijakan berani ini.
Sebagai pelengkap pengalaman premium, Borobudur juga semakin serius memasarkan program Sunrise & Sunset Experience. Program yang sudah berjalan selama tiga bulan terakhir ini memungkinkan wisatawan menikmati momen matahari terbit dan terbenam dari kawasan candi.
Pengalaman sinematik yang langka ini kini menjadi incaran para turis, baik domestik maupun mancanegara, yang mencari momen imersif dan tak terlupakan di situs warisan dunia tersebut.
Secara keseluruhan, strategi IDM ini mencerminkan keseimbangan yang terukur antara upaya konservasi dan kebutuhan komersialisasi. Dengan memadukan wisata budaya dan wisata olahraga, Borobudur kini menjelma menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman utuh: kesehatan, keindahan, dan sejarah.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Jawa Tengah secara berkelanjutan.













