Usai Kalah dari Everton, Amorim Pastikan MU Siap Berubah Secara Taktis

Ibnu Medium.jpeg

Kamis, 27 November 2025 – 07:00 WIB

Ruben Amorim, Manajer Manchester United, tampak sedih setelah timnya kebobolan dalam pertandingan Putaran Kedua Piala Carabao antara Grimsby Town dan Manchester United di Blundell Park pada 27 Agustus 2025 di Grimsby, Inggris. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images)

Ruben Amorim, Manajer Manchester United, tampak sedih setelah timnya kebobolan dalam pertandingan Putaran Kedua Piala Carabao antara Grimsby Town dan Manchester United di Blundell Park pada 27 Agustus 2025 di Grimsby, Inggris. (Foto: Shaun Botterill/Getty Images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Manajer Manchester United, Ruben Amorim, menepis kritik yang menyebut dirinya terlalu terpaku pada sistem 3-4-2-1. 

Setelah kekalahan mengejutkan dari Everton di Old Trafford—yang menjadi kekalahan pertama dari The Toffees dalam 12 tahun—Amorim menegaskan bahwa ia terbuka untuk melakukan perubahan taktis demi mengembalikan stabilitas permainan United.

Formasi 3-4-2-1 menjadi ciri khas Amorim sejak sukses bersama Sporting CP. Namun di United, pola itu menjadi perubahan besar dibandingkan tiga dekade terakhir, ketika klub terbiasa bermain dengan 4-3-3, 4-2-3-1, hingga 4-4-2.

Kritik terhadap fleksibilitas taktiknya kembali mencuat usai performa mengecewakan pada Senin malam. 

Namun dalam wawancara dengan DAZN Portugal, Amorim menegaskan bahwa United tidak sekaku yang terlihat.

“Kami sudah melakukannya saat melawan Liverpool. Bukan dengan Bryan Mbeumo, tapi dengan Matheus Cunha,” ujar Amorim, menekankan bahwa variasi pergerakan lini depan sudah ia terapkan.

Menurutnya, sepak bola modern menuntut perubahan struktur formasi dalam hitungan menit. 

“Kita bisa bilang ini 4-4-2, tapi lima menit kemudian berubah jadi 4-3-3 atau 3-4-3. Saya siap melakukan apa pun. Banyak orang mengira saya terpaku pada satu sistem—itu tidak benar,” katanya.

Amorim menegaskan bahwa 3-4-2-1 hanyalah “fondasi awal”, bukan kerangka kaku. Ia bahkan mempertimbangkan memainkan Bryan Mbeumo lebih sentral, meski sang winger disebut lebih nyaman “bersembunyi” di sisi lapangan untuk memanfaatkan ruang dan menjadi lebih berbahaya dari kedua flank.

Konsep itu mirip dengan yang ia terapkan pada Viktor Gyökeres saat masih di Sporting. Penyerang Swedia itu tidak pernah benar-benar terikat pada posisi statis, membuat pola serangan tim lebih cair dan tak mudah ditebak.

Bagi Amorim, fleksibilitas bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan. Perubahan struktur, rotasi posisi, dan variasi pergerakan menjadi kunci untuk membangun tim yang mampu bersaing di Premier League sekaligus menekan lawan dengan pola serangan yang dinamis.

Topik
Komentar