Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia, Purbaya Sebut World Bank Salah Hitung, Harus Minta Maaf

Clara Medium.jpeg

Jumat, 10 April 2026 – 04:09 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan awak media usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjawab pertanyaan awak media usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa geregetan juga dengan keputusan Bank Dunia atau World Bank menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari 4,8 persen ke 4,7 persen.

Tak sedang bercanda, Purbaya meragukan analisa World Bank itu. Dia menyebut lembaga global yang cukup kredibel itu, salah hitung. Bendahara negara itu mencontohkan, triwulan I-2026 pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5-5,6 persen, bahkan lebih tinggi.

“Berarti World Bank mengitung kita mau resesi, Turun ke bawah sekali setelah itu kalau rata-ratanya 4,6 (persen). Saya pikir, World Bank salah hitung,” ujar Purbaya, di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Dia menegaskan, fokus pemerintah saat ini, adalah memastikan program-program ekonomi berjalan optimal, sistem keuangan tetap kuat, serta iklim investasi terus membaik.

Dengan langkah tersebut, Purbaya optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi bakal kembali menguat. “Yang penting bagi kita adalah memastikan program yang memang baik. Sistem keuangan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Dan iklim investasi membaik. Saya pikir dengan usaha seperti itu, nanti juga pertumbuhan ekonomi akan berbalik,” kata dia.

Purbaya menduga proyeksi World Bank dipengaruhi asumsi akan tingginya harga minyak global. Namun, dia optimistis harga minyak kembali normal dalam waktu dekat. Sehingga, proyeksi itu layak diragukan karena bakal direvisi lagi.

“Saya yakin World Bank hitung itu karena dampak harga minyak tinggi. Kalau sebulan dari sini harga minyak turun ke level normal lagi, World Bank pasti akan skan berubah prediksinya,” ucapnya.

Purbaya menyayangkan dampak dari laporan Bank Dunia yang memicu sentimen negatif, terhadap perekonomian nasional. Bahkan, dia meminta World Bank untuk meminta maaf jika prediksi tersebut terbukti meleset.

“Tapi dia sudah melakukan dosa besar. Dia menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal. Kalau dia merubah prediksi ekonominya lagi,” tegasnya.

Mantan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu, memastikan, Kemenkeu akan terus mengoptimalkan seluruh mesin ekonomi domestik. Meski membuka kemungkinan prediksi World Bank benar, Purbaya menilai kondisi ekonomi saat ini menunjukkan tren perbaikan.

“Tapi saya sih akan optimalkan semua mesin ekonomi yang ada di sini. Mungkin saja World Bank betul. Tapi saya enggak tahu, yang jelas kalau di angka saya sih sedang membaik. Dan akan kita jaga terus. Mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus Asia saya,” tuturnya.

Laporan World Bank

Berdasarkan laporan East Asia and Pacific Economic Update April 2026,  World Bank menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026, menjadi 4,7 persen. Sebelumnya, World Bank mematok angka 4,8 persen.

bank dunia.jpg
Ilustrasi Bank Dunia. (Foto: Shutterstock)

Perlambatan yang diyakini World Bank ini, dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7 persen, seiring tekanan dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya sentimen kehati-hatian investor (risk-off),” dikutip Kamis (9/4/2026).

Tekanan tersebut diperkirakan akan menahan laju ekspansi ekonomi domestik. Namun demikian, dampak negatif tersebut dinilai akan sebagian teredam oleh pendapatan dari ekspor komoditas serta berbagai inisiatif investasi yang dipimpin oleh pemerintah.

Bank Dunia menilai sejumlah negara di kawasan masih memiliki bantalan ekonomi untuk meredam guncangan akibat lonjakan harga minyak.

Bagi Indonesia, posisi sebagai eksportir komoditas menjadi salah satu faktor penopang penting. Pendapatan dari ekspor komoditas dinilai dapat membantu menutupi kenaikan biaya energi yang timbul akibat harga minyak yang lebih tinggi.

Selain Indonesia, Malaysia juga diperkirakan memperoleh manfaat serupa dari penerimaan ekspor komoditas yang mampu mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang