Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menunjukkan watak aslinya yang keras kepala dan cenderung mengabaikan pakem birokrasi. Dengan nada jemawa, penghuni Gedung Putih ini menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak membutuhkan izin dari Kongres AS untuk melancarkan operasi militer ke Venezuela. Pernyataan ini sontak memicu kegaduhan di Capitol Hill dan mengundang kritik tajam dari berbagai kalangan.
Dihadapan awak media di Kantor Oval, Trump menjawab santai saat ditanya apakah dirinya akan menunggu pengesahan formal dari para legislator sebelum memperluas operasi militer melawan kartel narkoba di Venezuela.
“Saya tidak masalah menyampaikan hal ini kepada mereka (Kongres), tapi Anda tahu, ini bukan masalah besar. Saya tidak harus melapor kepada mereka,” ketus Trump sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat (19/12/2025).
Tabrak Konstitusi atau Celah Hukum?
Secara konstitusional, AS sebenarnya menempatkan wewenang deklarasi perang di tangan Kongres, meskipun Presiden menjabat sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata. Sejarah mencatat, pasca-tragedi 11 September, pengerahan militer ke Afghanistan dan Irak harus melalui proses pengesahan yang ketat di parlemen.
Namun, Trump tampaknya sedang bermain di wilayah abu-abu. Para pakar hukum internasional berpendapat bahwa sang Presiden memiliki celah untuk menginstruksikan serangan militer terbatas tanpa lampu hijau Kongres. Syaratnya, operasi tersebut harus dibingkai sebagai upaya ‘membela diri’ atau bersifat sementara. Inilah yang kini tengah dimainkan oleh Washington: membungkus agresi militer dengan dalih perang melawan narkoba.
Situasi Memanas di Karibia
Dalam beberapa bulan terakhir, militer AS telah menunjukkan taringnya dengan meluncurkan berbagai serangan udara di perairan Karibia dan lepas pantai Venezuela. Dalihnya adalah memburu kapal-kapal pengangkut narkoba. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal lain; banyak kapal yang diserang ternyata mengangkut warga sipil. Tragisnya, serangan-serangan ini dilakukan tanpa proses pengadilan atau pembuktian hukum yang sah.
Pengerahan pasukan dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) besar-besaran ke dekat perbatasan Venezuela semakin mempertegas sinyal perang. Caracas pun tidak tinggal diam. Di bawah komando Presiden Nicolas Maduro, militer Venezuela kini dalam status siaga tinggi.
Otoritas Venezuela menuding manuver Trump ini bukanlah sekadar pemberantasan narkoba, melainkan upaya terselubung untuk menggulingkan pemerintahan yang sah melalui jalur militer. Di tengah klaim ‘pembelaan diri’ Washington dan siaga perang di Karibia, dunia kini hanya bisa menahan napas melihat sejauh mana ‘kejemawaan’ Trump akan membawa kawasan tersebut ke dalam konflik terbuka.













