Tertarik Bikin Ambulans Terbang, Pakar Sarankan Prabowo Ikuti Jejak Australia dan Afrika

Diana Medium.jpeg

Rabu, 19 Agustus 2026 – 04:09 WIB

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Prof. Tjandra Yoga Aditama mengapresiasi tekad Presiden Prabowo Subianto menciptakan ambulans terbang dan dokter terbang untuk kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Tjandra menyebut, Australia dan Afrika sudah menjalankan program layanan kesehatan untuk daerah pelosok, sejak lama. “Dua pionir kegiatan itu di dunia, adalah yang dilakukan ‘Royal Flying Doctor Service’ di Australia dan ‘AMREF (African Medical and Research Foundation) Flying Doctors’ di Afrika,” ungkap Tjandra, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

“Kalau memang kegiatan dokter terbang akan dilakukan di negara kita, maka akan baik kalau dilakukan tolok ukur dari dua kegiatan di Australia dan Afrika ini,” imbuh Tjandra.

Dia lantas menyambut baik gagasan dari Presiden Prabowo yang cukup visioner itu. Di mana, dasar utama ‘Universal Health Coverage (UHC)’ adalah, semua warga harus mendapat akses layanan kesehatan berkualitas.

“Artinya siapa pun warga kita, di mana pun berada, di tempat terpencil sekalipun, memang harus mendapat pelayanan kesehatan yang baik dan bermutu. Tentu saja perlu ditegaskan bahwa kegiatan ini harus dilakukan dengan persiapan dan perencanaan yang baik dan secara rinci pula,” ujarnya.

Menurutnya, pelayanan kesehatan memang harus dilakukan secara baik dan tuntas, tidak bisa hanya satu sekuens kegiatan saja. Kalau ada ambulans atau dokter terbang yang datang, maka lanjut Tjandra, tentu perlu ada analisis tentang apa yang dapat dilakukan pada pasiennya serta bagaimana proses diagnosis ditegakkan.

Kemudian, kalau sudah diputuskan tentang apa yang akan dilakukan dan katakanlah dokter/ambulans terbang itu melakukan tindakan medis tertentu, maka harus ada penanganan pula pasca tindakan medis sesudah ambulans/dokter terbang meninggalkan lokasi.

“Artinya harus ada sistem, SDM dan juga sarana dan prasarana kesehatan untuk mempersiapkan sebelum ambulans/dokter terbang tiba di lokasi, dan juga melanjutkan penanganan pasien sesudah tindakan dan ambulans/dokter terbang meninggalkan lokasi,” ungkapnya.

Selain itu, Tjandra juga menyoroti hal lain dari Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo mengenai hampir semua Puskesmas belum memiliki 13 jenis tenaga kesehatan secara lengkap. Ia menilai hal tersebut jelas-jelas merupakan masalah dan tantangan yang besar.

Pelayanan kesehatan ucap dia, tentu bukan hanya mengobati mereka yang sudah sakit, baik oleh kegiatan pengobatan di Puskesmas dan juga antara lain dengan ambulans/dokter terbang), tetapi juga menjaga masyarakat tetap sehat.

“Semua ini membutuhkan pelayanan kesehatan primer di Puskesmas yang tentunya harus didukung dengan kelengkapan sumber daya manusia, yang harus jadi prioritas penting untuk menyehatkan bangsa,” pungkasnya.

Tujuan Mulia Prabowo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan tekad untuk menciptakan ambulans udara untuk kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Keinginan Prabowo ternyata bertujuan mulia. Karena dia mendengar laporan dari masyarakat yang tinggal di kawasan 3T. Mereka acapkali sulit mengakses layanan kesehatan.

Tim kesehatan dan bidan didampingi Kepala Desa Bonto Somba Suparman (tengah) di rumah warga, Dusun Ciddako, Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. (Foto: ANTARA). 

Termasuk para ibu yang meninggal setelah melahirkan, karena terlambat ditangani dokter. Karena masih sulitnya transportasi di kawasan 3T.

“Untuk itu, kita akan membuat ambulans udara dengan helikopter atau pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput. Di lapangan-lapangan pasir. Bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit,” ujar Prabowo dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Prabowo menyebut banyak mendapat laporan dari para ibu yang harus menempuh jarak yang cukup jauh, demi mendapatkan akses kesehatan. Akibatnya, banyak para ibu yang akan melahirkan, meninggal dunia.

“Saya mendapat laporan banyak ibu-ibu yang meninggal. Karena harus menempuh jalan 7 jam, sampai 9 jam saat akan melahirkan. Pada saat sudah waktu mau pecah, harus 9 jam. Karena tidak ada jalan yang baik, karena jembatan tidak bagus. Akhirnya banyak ibu-ibu meninggal di daerah-daerah yang tidak jauh dari ibu kota,” kata dia.

Sebagai solusinya, Prabowo menyebut, pemerintah akan melakukan terobosan dengan memberikan layanan dokter terbang. Nantinya, para dokter akan langsung mendatangi rumah masyarakat yang membutuhkan bantuan.

“Untuk itu kita harus mencari terobosan inovatif salah satu jalan adalah ambulans udara bahkan nanti juga tim dokter terbang. Kalau perlu dokter yang terbang ke tempat rakyat sakit keras atau menghadapi bencana,” ucapnya.
 

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang