Industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Tiongkok tengah diguncang polemik terkait praktik battery locking atau pembatasan performa baterai secara diam-diam melalui pembaruan perangkat lunak nirkabel (Over-the-Air/OTA).
Isu ini pertama kali mencuat pada 17 April 2026 ketika media pemerintah Tiongkok, CCTV, melaporkan bahwa pihak berwenang sedang menyelidiki praktik tersebut menyusul lonjakan keluhan dari konsumen. Pemberitaan awal yang semula sepi sorotan ini seketika meledak setelah beredar rumor di media sosial yang menyeret nama-nama raksasa otomotif.
Apa Itu Praktik ‘Battery Locking’?
Praktik battery locking merujuk pada penyesuaian sistem manajemen baterai oleh produsen mobil yang dilakukan dari jarak jauh (via OTA). Melalui pembaruan ini, pabrikan diduga memanipulasi batas pengisian daya maksimal, batas pemakaian (pengosongan), hingga kecepatan penyedotan daya baterai.
Pabrikan sering kali berdalih bahwa pembaruan tersebut dirancang sebagai langkah preventif untuk menjaga keamanan dan mencegah thermal runaway (kebakaran baterai). Namun, para kritikus dan pemilik EV memprotes keras, menuding bahwa pembaruan tersebut secara sepihak memangkas jarak tempuh maksimal dan menurunkan performa asli mobil yang dijanjikan saat pembelian.
Keresahan ini dibuktikan oleh data dari platform pengaduan konsumen 12315 di China. Sepanjang Maret 2026, platform tersebut menerima lebih dari 12.000 aduan spesifik terkait battery locking via OTA. Angka ini melonjak tajam 273 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Daftar Hoaks Buatan AI dan Bantahan Massal Pabrikan
Menyusul laporan investigasi CCTV, media sosial di China dibanjiri oleh daftar nama produsen yang diklaim telah dipanggil oleh regulator. Daftar yang dicurigai kuat dibuat menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) tersebut menyeret enam merek besar: BYD, Xpeng, Tesla, Li Auto, Zeekr, dan GAC Aion.
Bahkan, laporan dari Car News China menyebutkan adanya rumor liar yang mengeklaim tiga produsen telah resmi diinvestigasi dan dua lainnya terpaksa menghapus paket pembaruan perangkat lunak mereka. Menanggapi bola liar ini, para raksasa otomotif serempak buka suara:
BYD & Xpeng: Pada Sabtu (9/5/2026), kedua pabrikan ini dengan tegas menyatakan bahwa rumor battery locking dan pemanggilan oleh regulator adalah hoaks. Divisi hukum Xpeng menyebut oknum menggunakan AI untuk membuat narasi palsu. Keduanya bersiap menempuh jalur hukum terhadap para penyebar rumor.
Tesla: Perwakilan Tesla di China menyatakan kepada media lokal bahwa laporan tersebut tidak akurat. Mereka menegaskan bahwa seluruh pembaruan OTA Tesla selalu melewati prosedur pengujian ketat dan proses pelaporan resmi sebelum dirilis ke konsumen.
Nio, Zeekr, & GAC Aion: Ketiga pabrikan ini juga mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah keterlibatan mereka dalam praktik tersebut, serta menepis adanya pemanggilan atau investigasi dari pihak regulator.
Meski pabrikan telah melakukan bantahan keras, pemerintah Tiongkok tampaknya masih terus memantau ketat transparansi pembaruan OTA demi melindungi hak-hak konsumen kendaraan listrik di pasar otomotif terbesar di dunia tersebut.












