Keputusan Bank Indonesia menahan BI Rate di level 4,75% berdampak kepada penguatan rupiah ke level Rp16.935 per dolar AS pada penutupan Rabu (21/1/2026). (Foto: Antara)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dalam sepekan ini, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) mengalami kemerosotan yang bikin miris. Pada 20 Januari 2026, menyentuh rekor intraday krisis 1998 (Rp16.800/US$, sebesar Rp16.985 per dolar AS, Merapat ke nilai psikologis Rp17.000/US$.
Direktur Riset GREAT Institute, Prof Perdana Wahyu Santosa mengatakan, fenomena ini menarik meski agak mengganggu. Karena konteksnya: pelemahan rupiah, terjadi ketika indeks dolar AS tidak sedang super-perkasa.
Sehingga jangan salahkan jika muncul dugaan ada ‘bumbu domestik’ yang membuat mata uang Garuda terus melemah. Jadi, jangan terlalu mudah menyalahkan perkembangan global. Eskalasi geopolitik memang memberikan tekanan, tapi keanjlokan rupiah kok luar biasa.
Realitas ini, menurut Perdana, dikutip dari Antara, Sabtu (24/1/2026), tentu saja berdampak kepada agenda Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mematok target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen di tahun ini.
“Volatilitas rupiah bukan isu kosmetik. Menekan ekspektasi, menaikkan biaya modal, berpotensi mengganggu rantai pasok impor bahan baku, yang ujungnya memengaruhi konsumsi dan investasi,” ungkapnya.
Secara historis, menurut Perdana, rupiah biasanya sensitif terhadap perubahan selera risiko keuangan global, dan ketidakpastian geoplitik. Namun kali ini, terdapat kombinasi beberapa faktor.
“Pertama, arus keluar portofolio. Laporan Reuters menyebut sepanjang 2025 terjadi outflow asing di pasar obligasi pemerintah sekitar 6,5 miliar dolar AS, memberi tekanan pada rupiah dan membatasi ruang pelonggaran moneter,” ungkapnya.
Kedua, kata dia, kekhawatiran fiskal. Di mana, defisit 2025 disebut melebar menjadi 2,92 persen dari PDB. Atau sekitar Rp697 triliun, mendekati batas hukum 3 persen dari PDB. Kondisi ini mendorong pasar dengan mulai ‘menghitung ulang’ faktor risiko.
“Ketiga, isu independensi bank sentral. Pasar secara spesifik mencatat kekhawatiran mengenai independensi BI menguat, setelah muncul ‘kandidat tertentu’ untuk posisi Deputi Gubernur BI. Ini sejalan dengan dugaan pasar tentang adanya isu penguatan fiskal,” terangnya.
“Ada pula faktor musiman yang sering dianggap remeh tapi nyata di mana permintaan dolar untuk impor menjelang Ramadan dan pembayaran dividen dapat mempertebal tekanan jangka pendek,” ungkapnya.
Intinya, kata dia, pelemahan rupiah bukan hanya murni karena sentimen global, atau ‘murni masalah domestik’. Melainkan interaksi keduanya. Di titik interaksi inilah kualitas kebijakan publik diuji.










