Berdasarkan data Google Finance pada Jumat (12/4/2024) hingga pukul 15.00 WIB, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.100 per dolar AS. (Foto: Inilah.com/Didik Setiawan)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan pelemahan. Pada penutupan perdagangan Jumat (29/5) rupiah melemah 35 poin menjadi Rp17.880 per dolar AS (US$), ketimbang penutupan Kamis (28/5) yang bertengger Rp17.845/US$.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan (libur nasional), mata uang rupiah kemungkinan fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.880-Rp17.940 per dolar AS. Sedangkan rentang untuk seminggu ke depan di kisaran Rp17.800-Rp18.100 per dolar AS,” kata pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Sabtu (30/5/2026).
Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir ini, bersamaan dengan tekanan di pasar saham dan obligasi. Pemantiknya adalah sentimen negatif dari MSCI (Morgan Stanley Capital International). Ditambah faktor internal yakni kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal, dan kenaikan imbal hasil SBN (Surat Berharga Negara) sebesar 6,7-6,85 persen.
“Selain itu, tingginya permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi (pembayaran dividen) dan kebutuhan impor rutin, menekan pergerakan rupiah. Ditambah lagi sentimen pasar terhadap kebijakan, serta aset Indonesia,” kata dia.
Selain itu, kata Ibrahim, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunganya di level tinggi, memicu larinya arus modal asing (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS (obligasi) yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Kemudian, prospek anggaran dan pengeluaran negara yang ketat, serta kekhawatiran defisit anggaran menjadi sorotan lembaga pemeringkat kredit global seperti S&P Global, Moody’s dan Fitch Ratings, yang turut membebani kepercayaan pasar
“Tingginya harga minyak global meningkatkan biaya impor energi Indonesia, yang kemudian memicu lonjakan permintaan valuta asing (dolar AS) untuk pembayaran impor, sehingga berdampak terhadap melemahnya surplus neraca perdagangan serta ekspor yang melambat membuat pasokan dolar AS di pasar domestik menjadi lebih terbatas,” tuturnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













