Ilustrasi. (Desain: inilah.com/inu)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Di tengah dunia yang gemar mengukur kesalehan dari seberapa sibuk seseorang terlihat “baik” di media sosial, KumanFest 2025 justru mengajukan pertanyaan yang jarang direnungi: sudah ikhlaskah kita? Jalan siapakah yang kita tapaki ini? Benarkah amalan yang kita lakukan sesuai sunnah dan Kitabullah?
Bukan soal berapa banyak amal yang kita kumpulkan dan pamerkan, melainkan apakah amal itu telah murni sumbernya, benar panduannya, dan lurus arahnya.
Pertanyaan tersebut terasa sangat relevan hari ini, ketika agama kerap tampil sebagai aktivitas yang dipaksa berlari. Ia digesa untuk dihafal, dipamerkan, bahkan diperdebatkan, tanpa pernah benar-benar diberi ruang untuk “diendapkan”. Padahal iman tidak lahir dari warisan, apalagi praktik ikut-ikutan. Ia diturunkan untuk diyakini, dimaknai, ditumbuhkan, dan diamalkan.
Di Bandung, 25 Desember lalu, dalam sebuah ruangan yang tidak megah, orang-orang dewasa bersimpuh bersama—bukan untuk memamerkan capaian spiritual, melainkan untuk mengoreksi kompas kehidupan masing-masing.
KumanFest, yang digagas oleh Komunitas Umroh Mandiri, sejak awal menegaskan satu hal penting: perjalanan sejauh apa pun tidak akan berarti jika bekal dan tujuannya keliru. Amal tanpa ilmu, nihil nilainya.
KumanFest tidak membicarakan tiket, hotel, atau visa. Bahkan umrah dan haji pun tidak diposisikan sebagai simbol status rohani. Yang disorot justru sesuatu yang kerap terlewat dalam hiruk-pikuk ibadah: kualitas iman dan tauhid, kejujuran niat, serta keberanian menimbang ulang arah dan prioritas hidup.
Satu kalimat berulang sepanjang acara: amal tidak dinilai dari banyaknya, tetapi dari benarnya. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi implikasinya tidak ringan. Ia memaksa kita bercermin: berapa banyak aktivitas keagamaan yang kita lakukan hanya karena sudah terbiasa, karena lingkungan menormalisasikannya, atau karena ingin terlihat baik di mata manusia?
Dalam Islam, diterimanya amal bertumpu pada dua hal: ikhlas karena Allah dan ittibā’ kepada Rasulullah ﷺ. Dua syarat ini sering disebut, tetapi jarang benar-benar diperiksa. Kita rajin berbuat, namun enggan bertanya: apakah caranya benar? Apakah dalilnya ada? Ataukah sekadar mengikuti arus mayoritas?
Di titik inilah agama kerap tergelincir menjadi rutinitas, bukan kesadaran penuh. Semangat beramal tidak disertai ilmu, sementara rasa percaya diri dan keangkuhan melampaui kerendahan hati untuk belajar kembali. Maka persoalannya bukan niat buruk, melainkan rasa cukup tahu dan cepat puas atas keilmuan diri sendiri.
Salah satu sesi paling mengheningkan adalah ketika usia manusia dihitung secara jujur. Jika rata-rata usia 60 tahun, 15 tahun pertama sebelum baligh. Dari sisa 45 tahun, sepertiganya habis untuk tidur, sepertiganya untuk bekerja. Lalu berapa tahun yang benar-benar kita siapkan untuk Allah? Pertanyaan itu menggantung tanpa perlu jawaban lantang. Hati yang hidup pasti akan retak mendengarnya.
Namun agama tidak pernah hadir untuk mematahkan harapan. Allah Maha Lembut. Taubat yang sungguh-sungguh bukan hanya menghapus dosa, tetapi menggantinya dengan kebaikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa keburukan dapat ditukar menjadi pahala ketika iman dan amal saleh menyertainya (QS. Al-Furqān: 70). Harapan lahir bukan dari rasa aman, melainkan dari keberanian mengakui bahwa jalan yang ditempuh belum sepenuhnya benar.
KumanFest juga jujur membicarakan futur—masa lelah dalam beriman dan beramal. Bosan beribadah adalah manusiawi. Allah dan Rasul-Nya ﷺ mengetahui hal itu. Yang dipersoalkan bukan rasa bosannya, melainkan respons terhadapnya.
Ketika bosan, berpindahlah dari satu amal ke amal lain. Bosan shalat malam? Mengajilah. Bosan mengaji? Berdoalah dengan penuh ketundukan. Bosan berdoa? Duduklah dalam diam, memuji Allah, dan meratapi dosa. Yang keliru bukan berpindah amal, tetapi mengganti amal dengan maksiat: dari mushaf ke layar hiburan tanpa batas, dari majelis ilmu ke tempat yang menjauhkan hati. Selama iman naik dan turun, jangan biarkan ia benar-benar kosong dari amal.
Menariknya, sesi umrah dan haji tidak dipenuhi kisah manis semata. Ada yang pulang tanpa pekerjaan, tanpa pemasukan, bahkan harus menjual aset. Namun mereka bersaksi tentang rezeki yang berbeda: waktu untuk beribadah, ketenangan hati, mata yang basah oleh air mata, serta iman dan tauhid yang menguat. Umrah dipahami bukan sekadar pergi, melainkan pulang dengan jiwa yang lebih jujur dan tunduk. Tanpa pamrih, tanpa perhitungan kepada Allah. Bukankah satu rakaat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi setara ratusan tahun ibadah? Tidakkah itu cukup sebagai balasan di sisi Rabb kita?
Penegasan lain yang terasa membumi adalah soal rezeki. Ikhtiar tidak menjamin hasil, dan hasil tidak selalu datang dari arah yang direncanakan. Bisa jadi kita melangkah ke kanan, sementara Allah mengirim dari kiri. Ikhtiar dan tawakal adalah ibadah; hasil sepenuhnya hak prerogatif Allah.
KumanFest 2025 pada akhirnya terasa seperti sebuah cermin besar. Ia tidak menawarkan euforia, melainkan kejernihan. Mengingatkan bahwa banyak dari kita lelah bukan karena perjalanan terlalu jauh, melainkan karena amal ini tidak sepenuhnya murni karena Allah, jalan ini belum benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ, dan arah ikhtiar masih terlalu terikat pada dunia yang sejatinya telah Allah jamin rezekinya.
Umur bisa habis. Amal bisa ramai. Namun tanpa arah yang benar, semuanya berisiko tidak sampai tujuan. Di dunia tampak bahagia, sementara hisab berat menanti setelah kematian. Allāhul musta‘ān.
Semoga tagline acara ini tersampaikan utuh kepada para pembaca:
KUMANFEST 2025: Dari Tauhid Tumbuh Makna, Dari Iman Bersemi Amal.
Allāhu Ḥafīẓ.














