Proyek rekonstruksi Gaza senilai US$17 miliar yang digagas Donald Trump terhambat. Dana Board of Peace (BoP) dilaporkan seret akibat perang Iran. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Rencana besar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyulap wajah Jalur Gaza pascaperang kini di ujung tanduk. Lembaga penyokong dana utama, Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, dilaporkan mengalami krisis likuiditas yang serius.
Sumber internal yang dikutip Reuters, Sabtu (11/4/2026), mengungkapkan bahwa dana yang masuk ke kantong BoP baru mencakup sebagian kecil dari total komitmen sebesar US$17 miliar (sekitar Rp290,4 triliun). Seretnya kucuran modal ini secara otomatis menghambat rencana tata kelola dan rekonstruksi wilayah Palestina yang luluh lantak akibat agresi berkepanjangan.
Komitmen Negara Teluk Menguap?
Ironisnya, sepuluh hari sebelum ketegangan AS-Israel dan Iran memuncak, Trump sempat menggelar konferensi prestisius di Washington. Pertemuan itu sejatinya menghasilkan janji manis pendanaan miliaran dolar dari negara-negara Teluk Arab untuk mendukung ‘Gaza Baru’.
Sesuai cetak biru Trump, dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan besar-besaran wilayah pesisir Gaza dengan syarat pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel. Selain itu, dana ini dirancang untuk menyokong National Committee for the Administration of Gaza (NCAG), kelompok teknokrat Palestina bentukan AS yang diproyeksikan menggusur peran Hamas dalam pemerintahan sipil.
Namun, kenyataan di lapangan jauh dari harapan. Dari sepuluh negara yang sebelumnya berikrar, baru tiga negara yang merealisasikan sumbangannya, yakni Uni Emirat Arab (UEA), Maroko, dan AS sendiri. Total dana yang terkumpul disebut-sebut masih di bawah US$1 miliar (Rp17 triliun).
“Perang Iran memengaruhi segalanya,” ujar salah satu sumber operasi BoP. Akibatnya, NCAG hingga kini belum bisa menginjakkan kaki di Gaza karena kendala biaya dan situasi keamanan yang masih rapuh.
Rekonstruksi Butuh Rp1,19 Kuadriliun
Kondisi di Gaza sendiri masih jauh dari kata stabil. Meski gencatan senjata sudah diteken Oktober lalu, sisa-sisa kekerasan masih membayangi. Sementara itu, beban rehabilitasi wilayah tersebut diperkirakan mencapai angka fantastis: US$70 miliar atau setara Rp1,19 kuadriliun.
Angka tersebut sangat rasional mengingat sekitar empat perlima bangunan di Gaza telah rata dengan tanah akibat pemboman selama dua tahun terakhir. Utusan BoP, Nickolay Mladenovas, dikabarkan telah berterus terang kepada faksi-faksi di Palestina bahwa saat ini ‘tidak ada uang yang tersedia’.
Bantahan Dewan Perdamaian
Di tengah kabar miring tersebut, Board of Peace tetap memasang wajah tegar. Melalui pernyataan resmi di media sosial, mereka membantah adanya kendala pendanaan.
“Dewan Perdamaian adalah organisasi yang ramping dan berfokus pada pelaksanaan. Hingga saat ini, semua permintaan pendanaan telah dipenuhi dengan segera dan menyeluruh,” tulis pernyataan resmi tersebut.
Namun, pengamat menilai klaim tersebut hanya sekadar upaya menjaga citra diplomatik, sementara realitas di atas puing-puing Gaza menunjukkan pembangunan yang masih berjalan di tempat.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













