Pramugari Pesawat ATR Belum Ditemukan, Ibunda Esther Harap Adanya Mukjizat

Kecelakaan Pesawat ATR di Gunung Bulusaraung

Anton Medium.jpeg

Senin, 19 Januari 2026 – 13:25 WIB

Esther Aprilita Sianipar, pramugari yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel. (Foto: FB)

Esther Aprilita Sianipar, pramugari yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulsel. (Foto: FB)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Hingga saat ini petugas gabungan masih terus mencari korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Salah satu korban yakni Esther Aprilita Sianipar, selaku pramugari pesawat milik PT Indonesia Air Transport (IAT) tersebut. Meski dinyatakan masuk dalam manifest pesawat, namun ibunda korban masih terus berharap putrinya mendapat pertolongan dari Tuhan.

“Harapannya mukjizat Tuhan masih ada. Selama kami belum melihat Esther, mukjizat Tuhan masih ada,” kata J Siburian, ibu kandung Esther, Senin (19/1/2026).

Putri pertamanya itu, lanjut Siburian, kerap berkomunikasi terutama ketika berada di luar kota. Terakhir komunikasi saat korban berada di Yogyakarta, Jumat (16/1/2026) sebelum kejadian.

“Dia bilang di Jogja. Biasanya kalau begitu, besoknya dia komunikasi lagi,” ucapnya.

Meski berharap penuh kepada Sang Pencipta, dirinya juga tetap berkoordinasi dengan pihak kepolisian serta Tim Disaster Victim Identification (DVI). Koordinasi dilakukan perihal idetifikasi DNA serta perkembangan pencarian korban.

“Dari tim DVI sudah datang meminta identifikasi DNA yang bisa mempercepat proses identifikasi Esther,” jelasnya.

Diketahui, Esther Aprilita tercatat sebagai warga Jawa Barat, yang tinggal di Bukit Rancamaya, Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. 

Biasanya ia bertugas di sebuah maskapai penerbangan Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Namun sempat istirahat terbang pada pertengahan hingga akhir Desember 2025, lantaran pesawatnya sedang dipasangi kamera. Kemudian ia aktif kembali awal Januari 2026

Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dinyatakan hilang kontak di wilayah pegunungan Bulusaraung daerah perbatasan Kabupaten Maros-Pangkep, Sulsel saat hendak mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sabtu (17/1/2026) siang.

Pesawat ini ditumpangi 10 orang di antaranya tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Ketiganya diketahui pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Masing-masing Ferry Irawan dengan pangkat penata muda tingkat I dan jabatan analis kapal pengawas.

Selanjutnya, Deden Mulyana dengan pangkat penata muda tingkat I dengan jabatan pengelola barang milik negara dan Yoga Naufal dengan jabatannya operator foto udara.

Sementara tujuh kru yang bertugas yakni,
1. Kapten Andi Dahananto
2. Muhammad Farhan Gunawan
3. Hariadi
4. Restu Adi
5. Dwi Murdiono
6. Florencia lolita
7. Esther Aprilita