Prabowo & Palestina: Konsistensi Sang Jenderal di Tengah Gejolak Global

Ketika puluhan pemimpin dunia berkumpul untuk membidani perjanjian damai, semua mata tertuju pada Presiden Prabowo Subianto. Kehadirannya di samping Presiden AS Donald Trump bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan penegasan bahwa suara Indonesia –sebagai middle power yang konsisten membela Palestina– kini menjadi kunci yang harus dipertimbangkan dalam setiap arsitektur perdamaian global. Inilah momen ketika prinsip “Bebas Aktif” bukan lagi retorika, melainkan nyali yang diterjemahkan menjadi jabat tangan strategis demi kemanusiaan abadi.

Angin gurun yang biasanya menyengat di Sharm El-Sheikh, Mesir, terasa sedikit lebih sejuk pada Senin pagi, 13 Oktober 2025. Di dalam International Congress Centre, pendingin ruangan bekerja keras meredam ketegangan yang selama dua tahun terakhir membakar Timur Tengah. Namun, bukan suhu ruangan yang menjadi perhatian dunia hari itu, melainkan hangatnya atmosfer diplomasi yang tercipta di salah satu momen paling bersejarah di abad ke-21.

Di sanalah, di tengah sorotan ribuan lensa kamera dan tatapan penuh harap dari miliaran pasang mata penduduk bumi, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berdiri tegak. Ia tidak hanya hadir sebagai penonton. Ia hadir sebagai aktor kunci, merepresentasikan sebuah bangsa besar yang selama ini memilih jalan sunyi namun tegas dalam membela kemanusiaan.

Tahun 2025 akan dikenang dalam buku-buku sejarah bukan hanya sebagai tahun berakhirnya derita panjang Gaza, tetapi sebagai tahun di mana Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, benar-benar menegaskan dirinya sebagai middle power yang memiliki taring. “Macan Asia” yang tidak mengaum untuk menakuti, melainkan untuk mendamaikan.

Ini adalah napak tilas perjalanan diplomasi Indonesia sepanjang 2025, sebuah tahun di mana politik “Bebas Aktif” bukan sekadar slogan di buku pelajaran, melainkan sebuah praksis nyata yang menyelamatkan nyawa.

post-cover
Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh yang digelar di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025). (Foto: Biro Pers Setpres)

Panggung Sharm El-Sheikh: Ketika Prabowo dan Trump Bertemu

Momen puncak diplomasi Indonesia tahun ini tak pelak terjadi di Sharm El-Sheikh. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza itu dihadiri oleh 35 pemimpin dunia. Undangan untuk Prabowo datang mendadak, sebuah sinyal darurat sekaligus penghormatan bahwa kehadiran Jakarta sangat krusial untuk memecah kebuntuan.

Suasana ruang konferensi terasa magis. Israel dan Hamas akhirnya sepakat menjalankan tahap pertama dari rencana 20 poin untuk menghentikan pertempuran. Kesepakatan ini mencakup pertukaran sandera dan penarikan pasukan—sebuah oase di tengah gurun keputusasaan yang telah menewaskan lebih dari 70.000 jiwa.

Usai penandatanganan perjanjian damai, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump naik ke podium. Dengan gaya flamboyan khasnya, ia menyapu pandangan ke arah para pemimpin negara. Matanya terhenti pada satu sosok.

“Bersama dengan kita adalah Presiden Prabowo, sosok luar biasa dari Indonesia,” ujar Trump lantang. Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi diplomatik. Trump kemudian melanjutkan dengan nada penuh penghargaan, “Indonesia sudah kita bahas. Saya hanya ingin mengatakan bahwa itu adalah negara besar, negara yang kuat, dan kinerjanya sangat luar biasa.”

Prabowo, dengan setelan jas rapi dan peci hitam yang menjadi identitas nasional, melangkah maju. Keduanya berjabat tangan. Sebuah jabat tangan yang erat, menyiratkan banyak hal: pengakuan kekuatan, rasa hormat, dan yang terpenting, kesepahaman bahwa perdamaian memerlukan kerja sama lintas peradaban.

Badan strategi GREAT Institute mencatat momen ini sebagai titik balik. Ketua Dewan Direkturnya, Syahganda Nainggolan, menyebut interaksi ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki jalur komunikasi strategis yang tak banyak dimiliki negara berkembang lainnya. 

Prabowo, dengan latar belakang militernya yang kuat namun luwes dalam berdiplomasi, mampu menembus tembok birokrasi Washington yang biasanya kaku. Komunikasi Prabowo melampaui batas protokol diplomatik formal. Ia meminta bertemu Eric Trump secara langsung, dan permintaan itu didengar. Ini adalah bukti bahwa Indonesia memiliki akses langsung ke lingkar terdekat kekuasaan AS.

post-cover
Presiden Prabowo Subianto berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump usai penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang di Gaza, Palestina, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh yang digelar di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025). (Foto: Biro Pers Setpres)

Diplomasi “Bebas Aktif” di Era Multipolar

Namun, perjalanan menuju Sharm El-Sheikh bukanlah sebuah kebetulan. Ia adalah buah dari diplomasi maraton yang dilakukan Indonesia sepanjang tahun 2025. Sejak awal tahun, delegasi Indonesia di Sidang Umum PBB telah bekerja keras.

Di New York, para diplomat kita bertarung di ruang-ruang sidang yang dingin. Indonesia mendorong agar isu kelaparan di Gaza masuk dalam agenda resmi dan mendesak PBB. Kita tidak hanya berteriak di podium, tetapi juga mengirimkan bantuan pangan dan tenaga medis secara masif. Inisiatif “Solidaritas Pangan untuk Gaza” yang didorong Indonesia di forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menjadi bukti bahwa kepemimpinan Indonesia di dunia Islam adalah nyata, bukan klaim semata.

Politik luar negeri Indonesia di tahun 2025 diuji oleh peta geopolitik yang kian rumit dan terfragmentasi. Dunia semakin multipolar. Di satu sisi, Indonesia menjaga hubungan dagang yang mesra dengan China dan Uni Eropa. Di sisi lain, kedekatan Prabowo dengan Trump menunjukkan bahwa Indonesia tidak alergi terhadap Barat. Inilah esensi “Bebas Aktif” di era modern: bersahabat dengan semua, namun tetap punya prinsip sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, figur Prabowo yang solutif adalah kunci. “Di setiap forum internasional, figur Pak Presiden sendiri merupakan figur yang selalu dianggap punya jalan dan solusi-solusi serta sikap-sikap yang menghormati semuanya,” ujarnya. Indonesia tidak datang membawa masalah, Indonesia datang membawa jalan keluar.

post-cover
Para pemimpin dunia, termasuk Presiden Prabowo dan Presiden AS Donald Trump, berpose bersama saat menghadiri menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh yang digelar di International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025). (Foto: Biro Pers Setpres)

Menjaga “Pagar” Konstitusi di Tengah Pujian

Kendati pujian mengalir deras, diplomasi tingkat tinggi ini bukannya tanpa risiko. Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, memberikan catatan kritis yang sangat penting. Di tengah euforia perdamaian, Indonesia harus tetap waspada terhadap jebakan simbolisme.

Kehadiran Indonesia –sebagai satu-satunya negara Asia Tenggara di KTT tersebut dan negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel– adalah posisi yang unik sekaligus rawan. Ada kekhawatiran bahwa pertemuan ini bisa dimanfaatkan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel secara diam-diam.

Namun, pemerintah Indonesia bermain cantik. Prabowo menunjukkan kedewasaan politik yang luar biasa. Ia hadir untuk perdamaian, bukan untuk kompromi ideologis. Pesan yang dibawa jelas: Indonesia mendukung perdamaian karena amanat konstitusi untuk menghapuskan penjajahan, bukan untuk membuka hubungan diplomatik dengan entitas yang masih melakukan pendudukan.

Teuku Rezasyah mengingatkan, tantangan ke depan masih berat. Gagasan “Israel Raya” (Greater Israel) masih hidup di sebagian kalangan ekstrem kanan Israel. Oleh karena itu, Indonesia perlu konsisten meyakinkan dunia bahwa solusi dua negara (two-state solution) adalah satu-satunya jalan rasional.

Indonesia juga didorong untuk memperjuangkan reformasi Dewan Keamanan PBB. Rezasyah berpendapat, struktur PBB saat ini sudah usang. Indonesia, dengan populasi raksasa dan representasi peradaban Islam yang moderat, memiliki legitimasi kuat untuk menuntut peran lebih besar dalam struktur global yang lebih demokratis.

Dukungan Rakyat dan Solidaritas Semesta

Apa yang dilakukan Prabowo di panggung internasional tidak berdiri di ruang hampa. Di dalam negeri, dukungan mengalir deras. Nasky Putra Tandjung, pengamat kebijakan publik dan politik nasional, menyebut Prabowo sebagai “The Right Man on The Right Place”. Masyarakat sipil, diaspora, hingga netizen di media sosial menyatukan suara.

Tagar #IndonesiaForPalestine yang viral sepanjang tahun 2025 bukan sekadar tren digital. Itu adalah amunisi diplomasi publik yang memberikan legitimasi moral bagi para diplomat kita di meja perundingan. Ketika Prabowo berbicara di Mesir, ia tidak berbicara atas nama dirinya sendiri, melainkan atas nama 280 juta rakyat Indonesia yang hatinya tertaut pada penderitaan di Gaza.

Diplomasi Indonesia tahun ini berhasil menggabungkan kekuatan resmi negara (hard power militer dan soft power diplomasi) dengan kekuatan publik. Ini adalah orkestrasi yang indah dan efektif.

post-cover
Lazismu memberangkatkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina di Jalur Gaza melalui jalur Mesir sebagai bagian dari agenda ‘Join Action For Palestine ke-4’ bersama POROZ (Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat) dan anggota lainnya pada Selasa (2/12/2025). (Foto: lazismu.org)

Menatap 2026: Melanjutkan Estafet Perjuangan

Lantas, apa yang menanti di 2026?

Tahun 2025 telah meletakkan fondasi yang kokoh, namun pekerjaan rumah belum selesai. Perdamaian di atas kertas perjanjian harus diterjemahkan menjadi perdamaian di lapangan. Di sinilah peran Indonesia akan kembali diuji.

Komitmen pemerintah untuk mengirimkan pasukan perdamaian sebanyak 20.000 prajurit TNI adalah langkah strategis berikutnya. Jika ini terealisasi di tahun 2026, maka Indonesia tidak hanya menjadi juru bicara perdamaian, tetapi juga penjaga perdamaian (peacekeeper) yang sesungguhnya di tanah Palestina. Penugasan militer ini adalah wujud nyata dari amanat pembukaan UUD 1945 untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Selain itu, Indonesia harus terus mengawal proses pengakuan negara Palestina secara de jure dan de facto sesuai syarat Konvensi Montevideo 1933. Palestina membutuhkan batas wilayah yang jelas, populasi yang terdefinisi, dan pemerintahan yang efektif. Indonesia, dengan pengalamannya membangun bangsa, bisa menjadi mentor dan mitra strategis bagi otoritas Palestina dalam membangun kapasitas pemerintahan mereka.

Di forum PBB, Indonesia diprediksi akan semakin vokal menuntut reformasi. Tahun 2026 harus menjadi tahun di mana suara negara-negara berkembang (Global South) tidak lagi bisa diabaikan oleh hak veto negara adidaya.

Menutup tahun ini, kita bisa melihat sebuah pola yang jelas. Di tahun 2025, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi “penonton yang baik” atau “anak manis” dalam pergaulan internasional. Di bawah komando Prabowo Subianto, Indonesia telah bertransformasi menjadi pemain inti.

Kehadiran Prabowo di Sharm El-Sheikh, jabat tangannya dengan Trump, dan ketegasannya dalam membela Gaza adalah bukti bahwa diplomasi Indonesia telah naik kelas. Kita tidak lagi hanya mengandalkan retorika, tetapi menawarkan solusi. Kita tidak hanya mengecam, tetapi hadir di titik nol konflik untuk mendamaikan.

Tahun 2025 mengajarkan kita bahwa ukuran fisik atau kekayaan ekonomi bukanlah satu-satunya tolak ukur kekuatan sebuah negara. Konsistensi memegang prinsip, keberanian mengambil risiko, dan ketulusan dalam kemanusiaan adalah mata uang yang paling berharga di dunia yang sedang sakit ini.

Dan di sanalah Indonesia berdiri tegak pada tahun 2025: sebagai sahabat bagi yang tertindas, mitra bagi yang berkuasa, dan jembatan bagi mereka yang berseteru. Semoga di tahun 2026, jejak langkah damai ini semakin kokoh, membawa harum nama Merah Putih di setiap sudut Bumi yang merindukan keadilan.