Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026). (Foto: Inilah.com/Vonita)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Presiden RI Prabowo Subianto akan meluncurkan dan melakukan groundbreaking Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa-Bali, Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8/2026).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan program tersebut merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas Nasional Klaster Kemandirian Energi dan Air. Program ini diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
“Presiden telah menginstruksikan agar pembangunan 100 GWp PLTS dipercepat dan diselesaikan pada 2029, dengan efisiensi biaya listrik diperkirakan mencapai Rp73,9 triliun per tahun,” kata Prasetyo dalam keterangannya.
Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 30 GWp sekaligus menghentikan operasional pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) berkapasitas 13 GW.
Indonesia sendiri memiliki potensi energi surya sekitar 3.294 GWp. Namun, kapasitas PLTS yang telah terpasang hingga April 2026 baru mencapai sekitar 1,5 GWp.
“Program ini akan dibangun bertahap: Tahap I 17 GWp, Tahap II 18 GWp, dan Tahap III 30 GWp,” ujarnya.
Sepanjang 2025, pemerintah telah membangun 15 pembangkit energi baru terbarukan (EBT), terdiri atas 12 PLTS dan tiga pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH), dengan nilai investasi Rp103,3 miliar.
Pembangunan tersebut telah melayani 1.831 kepala keluarga dan 131 fasilitas umum. Sementara pada 2026, pembangunan dilanjutkan di 39 lokasi PLTS Terpadu di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) untuk melayani 4.259 rumah tangga dengan anggaran Rp450,2 miliar.
Selain itu, pemerintah membangun tiga PLTMH untuk melayani 464 rumah tangga dengan anggaran Rp50,4 miliar.
“Program Listrik Desa telah menjangkau 1.403 lokasi di 36 provinsi, dengan 220.845 rumah tangga tidak mampu menerima manfaat BPBL,” kata Prasetyo.
Menurut Prasetyo, Program PLTS 100 GWp tidak hanya ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi, tetapi juga diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Pertumbuhan tersebut akan didorong melalui investasi pembangkit, baterai, dan jaringan listrik, penguatan industri solar photovoltaic (PV) dalam negeri, serta penciptaan lapangan kerja hijau atau green jobs.
“RUPTL 2025-2034 diproyeksikan menciptakan sekitar 1,7 juta lapangan pekerjaan, lebih dari 760 ribu di antaranya berpotensi menjadi green jobs,” jelasnya.
Pemerintah memastikan pembangunan PLTS 100 GWp akan dikawal secara bertahap dan terukur. Program tersebut diharapkan dapat mendukung terwujudnya Indonesia yang lebih mandiri, tangguh, dan kompetitif di bidang energi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












