Asap mengepul tinggi di atas langit Teheran saat gelombang serangan Amerika Serikat dan Israel terus mengguncang Iran, Minggu (1/3/2026). (Foto: Fars)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Perang Amerika Serikat (AS) berduet dengan zionis Israel. melawan negara sekelas Iran, jelas tak imbang. Tapi, dampak ekonominya paling mengkhawatirkan. Karena berpotensi mengerek harga minyak dunia ke level tertinggi.
Kondisi tersebut jelas akan menambah berat beban APBN 2026. Ketika minyak dunia menjadi mahal, menciptakan kenaikan harga barang yang merongrong daya beli. Rasa-rasanya, agak sulit mendorong ekonomi Indonesia bergerak hingga level 5 persen lebih.
Ekonom dari Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi menilai, penggunaan APBN untuk menahan kenaikan harga energi domestik masih bisa dibenarkan pada fase awal guncangan global.
“Pilihan memakai APBN sebagai buffer dan menahan harga energi domestik bisa dibenarkan untuk fase awal guncangan, terutama ketika pemerintah ingin menjaga daya beli dan mencegah lonjakan inflasi yang tiba-tiba,” ujar Syafruddin kepada Inilah.com, Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, langkah serupa pernah dilakukan pemerintah ketika harga energi melonjak pada awal konflik Rusia-Ukraina. Saat itu pemerintah menahan kenaikan harga energi domestik agar inflasi tidak melonjak tajam.
Meski demikian, dia menegaskan kebijakan tersebut harus dilakukan secara sementara dan terukur. Jika dilakukan secara berlebihan, tekanan terhadap APBN justru bisa semakin besar. “Langkah ini hanya bijak bila bersifat sementara, terukur, dan sangat selektif,” katanya.
Syafruddin menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia di tengah konflik Iran harus dilihat sebagai risiko fiskal yang nyata bagi Indonesia. Hal ini karena asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dalam RAPBN 2026 berada di kisaran US$60 hingga US$80 per barel.
Jika harga minyak bergerak jauh di atas asumsi tersebut, maka tekanan terhadap APBN akan langsung muncul melalui subsidi dan kompensasi energi.
Berdasarkan perhitungan pemerintah, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel, berpotensi menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun. Namun tambahan penerimaan dari sektor migas hanya mampu mengimbangi sekitar Rp3,6 triliun.
Dengan demikian, beban bersih yang harus ditanggung APBN diperkirakan mencapai sekitar Rp6,7 triliun untuk setiap kenaikan US$1 per barel. “Angka sekitar Rp7 triliun per kenaikan 1 dolar AS, masih masuk akal sebagai pendekatan kasar,” tutur dia.
Namun, bukan hanya soal angka yang disoroti tetapi juga efek domino pada perekonomian. Kata dia, harga energi yang lebih mahal dapat mendorong pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatkan biaya logistik, menaikkan tarif listrik, hingga memicu kenaikan harga pangan.
Sebagai negara net importir produk minyak, Indonesia dinilai akan merasakan dampak tersebut lebih cepat dibanding negara eksportir energi. Karena itu, konflik yang berlangsung lama berpotensi memperluas dampak dari sekadar masalah subsidi energi menjadi risiko makroekonomi.
“Perang yang durasinya tidak pasti dapat mengubah risiko subsidi menjadi risiko makro yang jauh lebih luas,” tuturnya.
Di sisi lain, Syafruddin juga mengingatkan pemerintah agar tidak menutup lonjakan subsidi energi dengan memangkas belanja produktif secara besar-besaran.
Jika program yang dipangkas berkaitan dengan gizi, pendidikan, kesehatan, pembangunan desa, atau infrastruktur dasar, maka dampaknya justru bisa menghambat pertumbuhan ekonomi di masa depan.
“Pemotongan belanja produktif secara membabi buta demi menutup subsidi akan memindahkan masalah dari inflasi ke pertumbuhan,” jelasnya.
Karena itu, dia menyarankan pemerintah lebih fokus melindungi kelompok rentan dibanding mempertahankan subsidi energi yang dinikmati semua kelompok masyarakat.
Selain itu, efisiensi anggaran juga perlu dilakukan dengan memangkas belanja yang kualitasnya rendah serta menunda program dengan tingkat serapan yang lemah.
“APBN memang harus menjadi buffer, tetapi buffer yang cerdas, bukan bantalan yang boros,” tegas dia.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











