Perang AS-Iran Berisiko Jadi Konflik Regional, Seret Kekuatan Global Lainnya

Diana Medium.jpeg

Jumat, 6 Maret 2026 – 16:01 WIB

Ilustrasi - Serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. (Foto: Antara/Anadolu/py)

Ilustrasi – Serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. (Foto: Antara/Anadolu/py)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Akademisi sekaligus pengamat Hubungan Internasional (HI) UPN Veteran Jakarta, Asep Kamaluddin menekankan ada beberapa poin yang perlu digarisbawahi mengingat perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran terus berlanjut.

Pertama, terjadinya trust deficit dan kegagalan diplomasi. Penutupan negosiasi oleh Iran, kata dia, bukanlah hal yang mengejutkan secara teoritis.

“Dalam kajian HI, kita memahaminya sebagai bentuk total breakdown of trust. Yaitu, ketika Iran merasa dikhianati setelah melakukan beberapa perundingan, malah dibalas dengan operasi militer yang menargetkan kepemimpinan dan kedaulatan mereka,” ujar Asep kepada Inilah.com saat dihubungi di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

Di sini, lanjutnya, diplomasi tidak lagi memiliki nilai tawar. Yang berujung, Iran menggunakan strategi penangkalan total atau detterance total karena merasa bila instrumen hukum internasional gagal melindungi mereka.

“Kedua, fragmentasi kawasan sebagai dampak geopolitik. Kita akan melihat polarisasi yang semakin tajam, adanya keterlibatan NATO, dan aktor non negara, seperti di Lebanon berisiko menjadikan perang ini bukan konflik bilateral, namun menjadi konflik regional yang berisiko menyeret kekuatan global lainnya,” tuturnya menerangkan.

Posisi China dan Rusia 

Dalam kondisi seperti ini, Asep menegaskan bila posisi China dan Rusia akan sangat menentukan. Apakah kedua negara tersebut akan tetap berada di jalur mediasi, atau akan memberikan dukungan material yang lebih asertif kepada Teheran untuk mengimbangi hegemoni AS.

Ketiga, dampak ekonomi global dalam hal ini akan terjadi ancaman krisis energi, penutupan Selat Hormuz oleh Iran adalah kartu As Iran yang dapat melumpuhkan pasokan minyak dunia. Menurut dia, jika hal ini berlanjut maka inflasi global bisa terjadi, biaya logistik akan naik, dan negara pengimpor energi akan menghadapi tekanan fiskal yang berat.

“Terakhir, saya harus menegaskan bahwa segala bentuk serangan militer yang mengabaikan kedaulatan suatu bangsa, adalah langkah mundur bagi peradaban hukum internasional. Kita berkaca pada sejarah di Irak dan Libya bahwa perubahan rezim yang dipaksakan akan meninggalkan lubang kekuasaan dan kekacauan belaka,” ujar Asep mengingatkan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang